Kawanindonesia.web.id – Pemikir sosial Jacob Ereste menegaskan pentingnya pembangunan nasional yang berimbang antara aspek material dan spiritual.
Ia menilai, pembangunan yang hanya berfokus pada fisik tanpa diimbangi penguatan moral dan budaya lokal berpotensi melemahkan karakter bangsa.
Dalam pandangannya, Jacob Ereste mendorong masyarakat untuk membangun kesadaran spiritual melalui pengendalian diri, kejernihan berpikir, serta peningkatan daya nalar.
Ia menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari upaya membentuk kepribadian yang utuh dalam kehidupan sosial.
“Pembangunan tidak cukup hanya terlihat secara fisik. Kita harus membangun jiwa agar arah pembangunan memiliki nilai dan makna,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kecenderungan munculnya sikap jumawa dan merasa paling unggul yang sering dipicu oleh kekuasaan, kekayaan, maupun status sosial.(23/04/26)
Menurutnya, sikap tersebut harus dikendalikan agar tidak merusak harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
Jacob Ereste menekankan bahwa nilai-nilai seperti kejujuran, keikhlasan, dan kemampuan berbaur dengan masyarakat luas harus terus ditanamkan.
Ia meyakini, karakter tersebut dapat menjadi fondasi dalam membangun hubungan sosial yang sehat dan beradab.
Selain itu, ia mendorong penguatan gerakan moral berbasis nilai-nilai spiritual, seperti yang diusung oleh Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI).
Ia menilai gerakan tersebut dapat menjadi penggerak kebangkitan kesadaran etik masyarakat di tengah berbagai tantangan modern.
Lebih jauh, Jacob Ereste juga menyoroti pentingnya peran masyarakat adat dan keraton di berbagai wilayah Nusantara.
Ia menilai, kekayaan budaya lokal yang dimiliki Indonesia merupakan kekuatan besar yang perlu dijaga dan dikembangkan sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional.
Menurutnya, pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama dalam menghadirkan program nyata untuk mendukung pelestarian dan pemberdayaan budaya lokal,
termasuk melalui pusat kajian dan pengembangan berbasis komunitas adat.
“Budaya lokal adalah jati diri bangsa. Jika kita mengabaikannya, kita kehilangan arah dalam pembangunan,” tegasnya.
Ia menambahkan, pembangunan yang berimbang antara jiwa dan raga akan menciptakan peradaban yang lebih harmonis dan berkelanjutan.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali menempatkan moral dan budaya lokal sebagai bagian penting dalam pembangunan Indonesia ke depan.(Kontributor banten yacob)

