Kawanindonesia.web.id – Jacob Ereste menilai pemimpin dan pejabat publik perlu mengendalikan ambisi serta memperkuat spiritualitas untuk mencegah praktik korupsi.
Menurutnya, kekuasaan yang tidak diimbangi ketenangan batin, moral, dan akhlak dapat membuka ruang bagi penyalahgunaan kewenangan.
Jacob menyampaikan pandangan tersebut dalam tulisannya bertajuk “Laku Spiritual Semakin Mendesak untuk Pemimpin dan Pejabat Publik Mengatasi Korupsi di Dalam Korupsi”.
Ia menilai pemberantasan korupsi membutuhkan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan aturan dan penegakan hukum, tetapi juga pembenahan karakter manusia.
Spiritualitas Membentuk Kejujuran
Jacob menjelaskan bahwa spiritualitas bertumpu pada sejumlah nilai dasar, antara lain kejujuran, keikhlasan, kesabaran, kasih sayang, kerendahan hati, sikap bersahaja, serta kemauan untuk mendengar dan memahami pendapat orang lain.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus hadir dalam perilaku sehari-hari.
Pemimpin yang mampu menerapkannya akan lebih mudah menjaga amanah dan mempertimbangkan kepentingan masyarakat ketika mengambil keputusan.
“Spiritualitas itu dasarnya kejujuran, keikhlasan, kesabaran, penuh kasih dan sayang, rendah hati, bersahaja, penuh pengertian, pemaaf dan mau mendengar serta memahami pemikiran dan pendapat orang lain,” tulis Jacob.
Ia menilai satu nilai saja yang diabaikan dapat mengganggu pemahaman seseorang terhadap spiritualitas.
Karena itu, seseorang perlu terus melakukan pembenahan diri agar nilai tersebut tidak berhenti sebagai konsep.
Kendalikan Ambisi dan Kepentingan Pribadi
Jacob menempatkan pengendalian ambisi sebagai bagian penting dalam kehidupan seorang pemimpin.
Menurutnya, pejabat publik menghadapi berbagai kepentingan ketika menjalankan kewenangan sehingga membutuhkan ketenangan jiwa agar tidak mudah terjebak pada kepentingan pribadi.
Ia menyebut etika, moral, dan jiwa yang tenang sebagai tiga pilar penting yang dapat memperkuat akhlak manusia.
Etika mengarahkan perilaku melalui nilai-nilai baik dalam tradisi, budaya, dan adat istiadat.
Moral membantu seseorang menjaga kebersihan hati, sedangkan ketenangan jiwa membantu manusia mengendalikan ambisi duniawi.
Dalam konteks pemerintahan, Jacob menilai ketiga unsur tersebut dapat membantu pemimpin menggunakan kekuasaan secara bertanggung jawab dan menghindari tindakan yang merugikan masyarakat.
Laku Spiritual sebagai Jalan Perubahan
Jacob juga mengaitkan spiritualitas dengan konsep suluk dalam filosofi Jawa.
Ia memaknai suluk sebagai jalan batin atau proses untuk mengubah diri dari dalam.
Ia menyebut praktik muraqabah dan muhasabah dalam terminologi Islam sebagai bagian dari proses tersebut.
Jacob juga mengangkat konsep “Nrimo ing pandum” yang mencakup zuhud, tawakal, dan rida atau keikhlasan.
Selain itu, ia menyebut “Sungkem marang Gusti” sebagai bentuk laku yang berkaitan dengan introspeksi dan pertobatan.
Menurut Jacob, berbagai bentuk laku spiritual tersebut pada dasarnya mendorong manusia untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki perilakunya.
Spiritualitas Penting bagi Pejabat Publik
Jacob menilai pemimpin dan pejabat publik memiliki tanggung jawab besar karena kebijakan serta keputusan mereka menyangkut kepentingan dan hak masyarakat luas.
Karena itu, ia mendorong para pemegang jabatan publik mengembangkan kecerdasan spiritual.
Menurutnya, kecerdasan tersebut dapat membantu seseorang menenteramkan hati dan menjinakkan pikiran agar tidak bertindak curang atau mengkhianati amanah rakyat.
“Pengetahuan serta kecerdasan spiritual itu sangat penting dan mutlak diperlukan guna menenteramkan hati agar tidak bertindak jahat serta menjinakkan pikiran supaya tidak berlaku curang dan khianat pada rakyat,” ungkap Jacob.
Korupsi Tidak Hanya Masalah Hukum
Jacob berpandangan bahwa korupsi tidak hanya berkaitan dengan persoalan hukum dan sistem pengawasan.
Ia melihat persoalan tersebut juga berhubungan dengan kerusakan etika, moral, dan akhlak.
Menurutnya, berbagai bentuk korupsi terus berkembang dengan modus yang semakin beragam.
Ia menyoroti pula dugaan penggelapan barang bukti yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi sebagai salah satu gambaran bagaimana kejahatan dapat berkembang ketika pelakunya mengabaikan nilai moral.
Karena itu, Jacob mendorong pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan menggabungkan penegakan hukum dengan upaya membangun kesadaran moral.
Penindakan tetap diperlukan, tetapi pencegahan dari dalam diri juga harus mendapat perhatian.
Membangun Kepemimpinan Berintegritas
Jacob menilai pemimpin yang mampu mengendalikan ambisi akan lebih kuat menghadapi godaan kekuasaan.
Ia berharap pemimpin dan pejabat publik tidak hanya mematuhi aturan karena takut terhadap sanksi, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga amanah masyarakat.
Penguatan spiritualitas, menurutnya, dapat menjadi salah satu fondasi untuk membangun integritas kepemimpinan.
Kejujuran, keikhlasan, kerendahan hati, kemampuan mengendalikan diri, dan kepedulian terhadap kepentingan rakyat perlu menjadi bagian dari karakter pemimpin.
Dengan pendekatan tersebut, Jacob berharap upaya melawan korupsi tidak hanya bergerak melalui penindakan setelah kejahatan terjadi.
Pencegahan juga perlu dimulai dari pembentukan manusia yang mampu mengendalikan ambisi dan menjaga hati serta pikirannya ketika memegang kekuasaan.(Kontributor Jacob )
