Keterangan foto:Ilustrasi perempuan Indonesia memperingati Hari Kartini 2026.
Kawanindonesia.web.id – Peringatan Hari Kartini 2026 kembali menyoroti ketimpangan posisi perempuan di berbagai sektor.
Data terbaru menunjukkan perempuan Indonesia masih menghadapi hambatan dalam meraih kesetaraan, terutama pada posisi strategis di ruang publik.
Penulis Jacob Ereste mengungkapkan bahwa budaya patriarki masih kuat memengaruhi cara pandang masyarakat.
Ia menilai banyak pihak masih menempatkan perempuan pada peran domestik, seperti mengurus rumah tangga dan anak,
sehingga membatasi ruang gerak perempuan untuk berkembang di luar rumah.
Menurutnya, masyarakat perlu mengubah pola pikir tersebut agar perempuan dapat berkontribusi lebih luas.
Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki kemampuan yang setara dengan laki-laki jika mendapatkan kesempatan dan akses yang sama.
Data menunjukkan perempuan mendominasi jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan persentase mencapai 53,6 persen.
Namun, keterwakilan perempuan di jabatan tinggi seperti eselon II ke atas masih berkisar 30 persen.
Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara jumlah dan posisi strategis.Ketimpangan juga terlihat di sektor pertahanan dan keamanan.
Jumlah perempuan di militer masih berkisar 10 hingga 15 persen, sementara di kepolisian hanya sekitar 8 persen dari total personel.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, perempuan di sektor eksekutif baru mencapai sekitar 35,02 persen.
Bahkan pada posisi pimpinan tertinggi perusahaan, jumlah perempuan masih sangat terbatas.
Di bidang politik, hasil Pemilu 2024 menunjukkan keterwakilan perempuan di DPR RI hanya sekitar 22,1 persen atau 128 orang.
Angka ini masih berada di bawah target kuota 30 persen yang telah ditetapkan sejak era Reformasi.
Sementara itu, di ranah peradilan, keterwakilan perempuan di Mahkamah Agung juga masih rendah.
Data menunjukkan jumlah hakim perempuan tidak lebih dari 7 persen.
Jacob menilai kondisi tersebut menegaskan bahwa kesetaraan gender di Indonesia belum tercapai secara maksimal.
Ia mendorong pemerintah dan masyarakat untuk memperluas akses pendidikan, pelatihan,
serta kesempatan kerja bagi perempuan.Ia juga menekankan pentingnya pembagian peran yang adil dalam rumah tangga.
Menurutnya, laki-laki perlu terlibat dalam pekerjaan domestik agar perempuan tidak menanggung beban ganda.
Momentum Hari Kartini 2026 diharapkan mampu mendorong perubahan nyata, bukan sekadar peringatan simbolis.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, perempuan Indonesia diharapkan dapat memperoleh ruang yang lebih luas untuk berkontribusi dan berperan dalam pembangunan nasional.(Kontributor banten yacob)
