Kawanindonesia.web.id – Budayawan dan pemikir sosial Jacob Ereste menegaskan bahwa nilai-nilai spiritual harus menjadi pedoman utama dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern.
Menurutnya, kemajuan zaman tidak boleh menggeser etika, moral, dan akhlak yang menjadi fondasi kehidupan manusia serta penentu arah pembangunan bangsa.
Dalam refleksinya yang ditulis di Banten pada 16 Juli 2026, Jacob menyampaikan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi manusia saat ini bukan hanya persoalan ekonomi, politik, atau teknologi, melainkan melemahnya keberanian untuk menyampaikan kebenaran dan mempertahankan integritas.
Ia menilai setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi saksi atas kebenaran. Karena itu, seseorang tidak boleh membiarkan fakta disembunyikan atau diputarbalikkan demi kepentingan tertentu.
Menurut Jacob, kebenaran perlu disampaikan dan didokumentasikan agar menjadi pelajaran berharga bagi generasi berikutnya.
Jacob juga menyoroti fenomena ketika seseorang mengetahui suatu tindakan yang salah, tetapi tetap memilih diam atau bahkan ikut melakukannya demi memperoleh jabatan, keuntungan materi, maupun rasa aman.
Dalam pandangannya, keputusan tersebut mencerminkan konflik antara hati nurani dan kepentingan pribadi yang pada akhirnya mengikis nilai-nilai spiritual.
Ia menegaskan bahwa pengkhianatan terbesar bukan hanya kepada orang lain, tetapi juga kepada diri sendiri ketika seseorang mengabaikan suara hati dan akal sehat.
Sikap tersebut, menurutnya, menjadi awal lahirnya berbagai bentuk penyimpangan yang merugikan masyarakat luas.
Dalam refleksinya, Jacob mengaitkan kondisi tersebut dengan semakin kuatnya pengaruh materialisme, kapitalisme, dan liberalisme yang menjadikan ukuran keberhasilan lebih banyak ditentukan oleh kekayaan, jabatan, dan citra dibandingkan integritas, kepedulian sosial, serta akhlak.
Menurut Jacob, kepekaan spiritual dapat dilihat dari kemampuan seseorang merasakan penderitaan orang lain dan terdorong untuk membantu atau mencegah terjadinya ketidakadilan.
Ia menilai empati, gotong royong, dan tanggung jawab sosial merupakan nilai yang harus terus dipertahankan di tengah kehidupan masyarakat yang semakin individualistis.
Jacob juga mengingatkan bahwa semangat menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan telah memicu berbagai persoalan di berbagai sektor kehidupan.
Karena itu, ia mengajak masyarakat kembali menjadikan etika dan moral sebagai landasan dalam mengambil setiap keputusan.
Selain itu, Jacob menekankan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan.
Menurutnya, kesadaran spiritual akan melahirkan sikap yang lebih bijaksana dalam menghadapi persoalan sosial, lingkungan, maupun kehidupan berbangsa.
Di akhir refleksinya, Jacob Ereste menyampaikan bahwa keteguhan spiritual akan selalu membuka harapan baru.
Ia meyakini bahwa seseorang yang tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran, meski menghadapi berbagai rintangan, akan mampu menciptakan jalan bagi perubahan yang lebih baik.
Bagi Jacob, perjalanan spiritual bukan sekadar pencarian makna hidup, melainkan juga komitmen untuk menjaga integritas, membela kebenaran, dan mengabdikan diri bagi kepentingan kemanusiaan.
Nilai-nilai tersebut, menurutnya, harus terus menjadi pedoman agar bangsa mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri.(Kontributor Yacob)

