Keterangan foto:DPRD Jatim tekankan kesiapsiagaan hadapi kekeringan dan ancaman karhutla 2026.
Kawanindonesia.id – DPRD Jawa Timur menekankan pentingnya penguatan mitigasi bencana menghadapi ancaman kekeringan panjang yang diprediksi melanda pada 2026.
Lembaga legislatif ini meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur meningkatkan kesiapsiagaan guna mengantisipasi dampak yang lebih luas, terutama risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Anggota Komisi B DPRD Jatim, Roaitu Nafif Laha, menyatakan bahwa kondisi cuaca ekstrem berpotensi meningkatkan kerentanan kawasan hutan terhadap kebakaran.
Ia menilai suhu tinggi dan minimnya curah hujan akan mempercepat pengeringan vegetasi, sehingga mudah terbakar.
“Pemprov harus memperkuat langkah mitigasi sejak dini, termasuk menyiagakan satuan tugas dan sarana pendukung pemadaman,” ujarnya, Minggu (29/3/2026).
Ia menjelaskan, kekeringan berkepanjangan akan menyebabkan penumpukan bahan organik kering seperti daun dan ranting di lantai hutan.
Kondisi tersebut dapat menjadi pemicu utama kebakaran apabila tidak diantisipasi dengan baik.
DPRD Jatim juga mendorong penggunaan teknologi dan peralatan modern,
“seperti helikopter water bombing, untuk mempercepat penanganan jika terjadi kebakaran.
Selain itu, koordinasi lintas sektor dinilai menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana secara efektif.
Roaitu menambahkan, mitigasi tidak hanya berfokus pada penanganan kebakaran, tetapi juga mencakup upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Ia mengingatkan bahwa kerusakan hutan akibat kekeringan dapat berdampak pada menurunnya daya serap air, yang berpotensi memperparah krisis air di wilayah sekitar.
“Jika vegetasi rusak, kemampuan hutan dalam menyimpan air akan menurun. Ini bisa berdampak jangka panjang terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat,” jelasnya.
Data menunjukkan luas kawasan hutan di Jawa Timur mencapai sekitar 1,3 juta hektare, dengan sebagian besar dikelola oleh Perhutani dan sebagian lainnya berupa hutan rakyat serta kawasan konservasi.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus.
Kekeringan diperkirakan meluas di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur.
Dengan kondisi tersebut, DPRD Jatim meminta seluruh pemangku kepentingan meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah mitigasi guna meminimalkan dampak bencana serta menjaga keberlanjutan lingkungan.(Leny)

