Kawanindonesia.web.id – Ratusan anak tampil aktif dalam pentas Ludruk Besutan yang digelar di Rumah Sanggar Ilalang, Desa Karangnongko, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Sabtu (25/04/26).
Pentas yang digagas Meijono (Meimura) ini tidak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga menjadi ruang kreativitas dan pembinaan generasi muda.
Sejak awal pertunjukan, anak-anak langsung memadati arena. Mereka bergantian membaca puisi, tampil monolog, hingga berani beraksi sendiri di panggung.
Penampilan tersebut menunjukkan kepercayaan diri yang kuat, hasil dari pembinaan intensif yang dilakukan oleh Sanggar Ilalang.
Sanggar yang dipimpin Agus R. Soebagyo ini telah lama menjadi wadah pengembangan bakat seni bagi anak-anak, mulai dari tingkat TK hingga SMA.
Rego secara konsisten melatih mereka dalam seni teater, pembacaan puisi, dan monolog, sehingga mampu tampil tanpa rasa canggung, bahkan menorehkan prestasi di tingkat nasional.
Dalam pentas bertema Besut Sambang Putu, Meimura menghadirkan konsep pertunjukan yang hangat dan interaktif.
Ia tidak hanya berperan sebagai tokoh Besut, tetapi juga membangun kedekatan emosional dengan anak-anak yang terlibat.
Interaksi berlangsung cair melalui dialog spontan, humor, hingga edukasi ringan tentang seni ludruk dan tari remo.
Anak-anak juga membawakan karya para penyair nasional seperti Taufik Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, dan Sapardi Djoko Damono dengan penuh penghayatan.
Salah satu peserta, Sabrina, bahkan tampil memukau melalui dialog spontan bersama tokoh Besut di atas panggung.
Sebagai bentuk apresiasi, para peserta menerima hadiah buku karya Henri Nurcahyo yang diserahkan langsung oleh penulisnya.
Rego menjelaskan bahwa komunitas yang ia dirikan bermula dari pembinaan anak jalanan di Malang sebelum akhirnya berkembang di Nganjuk sejak 2009.
Hingga kini, Sanggar Ilalang terus menjadi ruang alternatif bagi anak-anak untuk menyalurkan bakat seni di luar pendidikan formal.
Sementara itu, Autar Abdillah menilai kegiatan ini mampu membangun interaksi sosial sekaligus mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai.
Menurutnya, ludruk tetap relevan sebagai media hiburan yang sarat nilai sosial dan budaya.
Program “Jajah Deso Milangkori” yang diinisiasi Meimura menjadi bagian dari upaya pemberdayaan ruang publik oleh Kementerian Kebudayaan RI di berbagai kota di Jawa Timur.
Setelah Nganjuk, program ini akan berlanjut ke sejumlah daerah lain.
Melalui keterlibatan aktif anak-anak dan dukungan komunitas, pentas Ludruk Besutan ini membuktikan bahwa kesenian tradisional mampu menjadi sarana edukasi,
pembinaan karakter, sekaligus memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat. (Geng)

