Kawanindonesia.web.id— Rumah Ilalang di Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, menjadi saksi berlangsungnya kegiatan budaya Sambang Putu yang mengusung tema “Jajah Deso Milangkori”.
Kegiatan ini berhasil mempertemukan berbagai generasi dalam satu ruang kebudayaan yang hangat, sekaligus memperkuat nilai persaudaraan dan kecintaan terhadap budaya lokal.
Panitia menghadirkan Sambang Putu bukan sekadar sebagai ajang temu kangen, melainkan sebagai ruang refleksi dan regenerasi.
Peserta yang hadir berasal dari beragam latar belakang—mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga pendidik—yang sebelumnya pernah terlibat dalam kegiatan serupa beberapa tahun lalu.
Para peserta menunjukkan perubahan signifikan. Jika sebelumnya sebagian dari mereka masih anak-anak,
“kini mereka tumbuh menjadi generasi muda yang mulai mengambil peran aktif dalam dunia pendidikan dan kebudayaan.
Bahkan, generasi yang dulu belum lahir kini ikut ambil bagian, menandai keberlanjutan tradisi yang tidak terputus.
Kegiatan ini semakin hidup dengan penampilan Ludruk Garingan yang dibawakan oleh Meimura.
Para seniman menyuguhkan pertunjukan yang memadukan humor, kritik sosial, dan nilai-nilai kearifan lokal.
Mereka mengajak penonton untuk tidak hanya tertawa, tetapi juga berpikir kritis terhadap dinamika sosial yang terjadi di masyarakat.
Sejumlah tokoh budaya turut hadir dan memberikan pandangan, di antaranya Autar Abdillah, Henry Nurcahyo, dan Rego Ilalang.
Mereka mendorong generasi muda agar tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan budaya, tetapi juga menjadi pelaku aktif yang mampu merawat dan mengembangkan tradisi.
Dalam forum tersebut, peserta juga mendiskusikan berbagai tantangan kebudayaan di era modern, seperti pergeseran nilai dan derasnya arus budaya instan.
Para narasumber menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi agar budaya tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Sebagai bentuk konkret dukungan terhadap literasi budaya, panitia membagikan puluhan buku karya Henry Nurcahyo kepada peserta.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai kebudayaan sekaligus mendorong lahirnya gagasan baru.
Melalui kegiatan ini, Sambang Putu tidak hanya menjadi ajang pertemuan, tetapi juga berfungsi sebagai laboratorium sosial-budaya.
Para peserta memanfaatkan ruang ini untuk membangun jejaring, bertukar gagasan,
serta memperkuat solidaritas di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Panitia berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak generasi muda.
Mereka menilai bahwa keberlangsungan budaya sangat bergantung pada keterlibatan aktif generasi penerus dalam memahami, menjaga, dan mengembangkan warisan leluhur.
Dengan semangat kebersamaan yang terbangun di Rumah Ilalang, Sambang Putu membuktikan bahwa budaya lokal tetap memiliki daya hidup kuat, selama masyarakat mau merawatnya secara bersama-sama.(Geng)

