Kawanindonesia.web.– Pengamat sosial dan politik Jacob Ereste mendorong pelaksanaan demokrasi di Indonesia agar kembali berpijak pada nilai-nilai musyawarah, gotong royong, persatuan, dan kebersamaan sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam pandangannya yang ditulis pada 27 Juni 2026 di Banten, Jacob menilai demokrasi yang sehat harus membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk memperoleh informasi, menyampaikan kritik, serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan.
Menurutnya, keterbukaan menjadi syarat penting agar demokrasi berjalan secara jujur, transparan, dan berpihak kepada kepentingan rakyat.
Jacob menegaskan bahwa setiap pemimpin, termasuk pejabat publik, harus memadukan kecerdasan intelektual dengan kecerdasan spiritual.
Ia berpandangan bahwa perpaduan kedua nilai tersebut akan menghasilkan kebijakan yang beretika, bermoral, dan mengutamakan kepentingan masyarakat.
“Demokrasi tidak cukup hanya mengandalkan prosedur. Demokrasi harus dibimbing oleh etika dan moral agar setiap kebijakan benar-benar membawa manfaat bagi rakyat,” tulis Jacob.
Ia juga menyoroti pentingnya fungsi lembaga perwakilan rakyat dalam menjalankan tugas pengawasan.
Menurut Jacob, parlemen harus memperjuangkan aspirasi masyarakat, menjaga integritas, serta memastikan setiap kebijakan pemerintah berjalan sesuai amanat konstitusi.
Selain itu, Jacob mengingatkan bahwa demokrasi tidak boleh menjadi sekadar formalitas politik.
Ia menilai seluruh proses, mulai dari penyusunan hingga pelaksanaan program pemerintah, harus terbuka terhadap evaluasi dan pengawasan publik agar terhindar dari penyalahgunaan kewenangan.
Dalam pandangannya, budaya musyawarah mufakat tetap relevan sebagai mekanisme utama dalam mengambil keputusan.
Jacob menilai musyawarah mampu memperkuat rasa memiliki terhadap setiap kebijakan karena seluruh pihak ikut terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
Ia juga menempatkan semangat gotong royong sebagai kekuatan sosial yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Menurutnya, budaya tersebut mampu memperkokoh persatuan dan kebersamaan di tengah keberagaman suku, agama, bahasa, dan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia.
Jacob menegaskan bahwa keberagaman bukanlah penghalang bagi demokrasi, melainkan modal besar untuk membangun bangsa yang lebih kuat.
Ia mengibaratkan Indonesia seperti pelangi yang indah karena memiliki banyak warna, namun tetap membentuk satu kesatuan yang harmonis.
Melalui pandangannya tersebut, Jacob Ereste mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan demokrasi sebagai sarana memperkuat persatuan, memperluas musyawarah,
menghidupkan kembali semangat gotong royong, dan membangun kebersamaan demi mewujudkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia.(Kontributor Yacob)

