Jacob Ereste Soroti Budaya Saling Menyandera dalam Politik Indonesia

Kawanindonesia.web.id – Pengamat sosial dan penulis Jacob Ereste menyoroti fenomena budaya saling menyandera yang dinilainya masih mewarnai dinamika politik di Indonesia.

Menurutnya, praktik tersebut tidak hanya memengaruhi hubungan antar elit politik, tetapi juga berpotensi melahirkan penyalahgunaan kekuasaan, tekanan politik, dan persoalan moral yang berdampak luas terhadap kehidupan berbangsa.


Dalam pandangannya, praktik saling menyandera tidak selalu berbentuk tindakan fisik.

Jacob Ereste menilai penyanderaan juga dapat terjadi melalui penguasaan informasi, kepentingan, maupun berbagai bentuk tekanan yang membuat seseorang kehilangan kebebasan untuk mengambil keputusan secara independen.


Ia menjelaskan, pihak yang berada dalam posisi tersandera kerap menghadapi situasi serba sulit.

Setiap pilihan yang diambil memiliki risiko besar sehingga mereka akhirnya memilih mengikuti kehendak pihak yang memiliki kendali lebih kuat.

Kondisi tersebut, menurut Jacob, menciptakan hubungan yang tidak sehat dalam praktik politik maupun tata kelola kekuasaan.


Jacob Ereste juga menilai budaya saling menyandera dapat berlangsung secara timbal balik. Ketika masing-masing pihak menyimpan kelemahan atau kepentingan tertentu, mereka cenderung membangun kesepakatan untuk saling melindungi demi menjaga posisi dan kepentingan masing-masing.


Menurutnya, pola hubungan semacam itu berpotensi menghambat lahirnya pemerintahan yang transparan dan akuntabel.

Ia mengingatkan bahwa kepentingan pribadi maupun kelompok tidak seharusnya mengalahkan kepentingan masyarakat yang lebih luas.


Dalam tulisannya, Jacob Ereste menggunakan kisah Mahabharata, khususnya perang Kurusetra antara Pandawa dan Kurawa, sebagai ilustrasi mengenai pertarungan antara nilai kebenaran dan kebatilan.

Ia menyebut sejumlah tokoh dalam kisah tersebut sebagai simbol berbagai karakter manusia, mulai dari kesetiaan yang keliru, sikap diam terhadap ketidakadilan, hingga kelicikan dalam menjalankan strategi politik.


Jacob berpandangan bahwa pembiaran terhadap ketidakadilan hanya akan memperpanjang konflik dan memperburuk kehidupan berbangsa.

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk menjunjung tinggi integritas, kejujuran, serta tanggung jawab dalam menjalankan amanah, baik di bidang politik maupun kehidupan sosial.


Ia juga menegaskan bahwa setiap tindakan yang dilakukan seseorang pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan, tidak hanya di hadapan hukum negara, tetapi juga secara moral dan spiritual.

Menurutnya, kekuasaan yang dibangun di atas praktik saling menyandera dan penyalahgunaan wewenang hanya akan meninggalkan beban serta konsekuensi yang terus membayangi para pelakunya.


Melalui pandangan tersebut, Jacob Ereste berharap para pemangku kepentingan menjadikan etika, keadilan, dan kepentingan publik sebagai landasan utama dalam setiap pengambilan keputusan.

Ia meyakini budaya politik yang sehat hanya dapat terwujud apabila seluruh pihak berani meninggalkan praktik-praktik yang bertentangan dengan prinsip demokrasi dan supremasi hukum.(Kontributor Yacob)

Berita Terkait