Keterangan foto:Pihak Hotel Kristal bantah pengeroyokan, rekaman CCTV justru disita polisi.
Kawanindonesia.web.id – Kasus penanganan pencurian di wilayah Pancur Batu kembali menuai sorotan setelah pihak Hotel Kristal membantah adanya aksi pengeroyokan.
Di sisi lain, rekaman CCTV yang diduga merekam peristiwa tersebut justru telah disita oleh aparat kepolisian.
Keluarga Putra Sembiring mengungkap fakta tersebut setelah mendatangi pihak hotel untuk menelusuri kebenaran tudingan penganiayaan yang kini menjerat mereka sebagai tersangka.
Dalam pertemuan itu, pengelola hotel menyatakan tidak pernah melihat adanya tindakan kekerasan bersama-sama saat penangkapan berlangsung.
“Pihak hotel menegaskan tidak ada pengeroyokan. Mereka hanya melihat pelaku dibawa keluar dari kamar,” ujar perwakilan keluarga, Sabtu (4/4/2026).
Keterangan tersebut dinilai bertolak belakang dengan laporan yang menjadi dasar penetapan status tersangka terhadap pihak keluarga korban.
Rekaman CCTV Diambil Aparat keluarga juga mengungkap bahwa rekaman CCTV Hotel Kristal yang merekam kejadian justru telah diambil oleh seseorang yang mengaku anggota kepolisian.
Pengambilan itu disebut terjadi beberapa hari setelah penangkapan.“Menurut pihak hotel, ada polisi datang membawa surat dan mengambil rekaman CCTV.
Katanya atas perintah Kapolsek Pancur Batu,” jelas keluarga.Hingga kini, keberadaan rekaman tersebut tidak diketahui.
Keluarga pun mempertanyakan isi CCTV yang dianggap dapat menjadi bukti penting untuk mengungkap fakta sebenarnya di lapangan.
Kesaksian Tambahan Perkuat Bantahan Bantahan terkait dugaan pengeroyokan juga datang dari seorang mantan karyawan hotel berinisial YS yang mengaku berada di lokasi saat kejadian.
Ia menegaskan tidak melihat adanya tindakan kekerasan.“Saya ada di kamar 22 saat itu. Tidak ada pengeroyokan, saya lihat langsung,” ujarnya.
YS bahkan mengaku telah menyampaikan hal tersebut kepada penyidik saat pemeriksaan.
Muncul Dugaan Keterlibatan Warga Sipil keluarga juga menyoroti kehadiran seorang pria yang awalnya mereka kira anggota polisi karena ikut dalam proses penangkapan di kamar hotel.
Namun belakangan, mereka menduga pria tersebut bukan aparat resmi.
“Dia ikut masuk bersama kami, kami kira polisi. Tapi ternyata bukan. Sekarang malah jadi saksi,” ungkap
keluarga.Kondisi ini memicu pertanyaan serius terkait prosedur penangkapan dan kemungkinan adanya keterlibatan pihak luar dalam operasi tersebut.
Desak Penyelidikan Transparan Keluarga mendesak Kepolisian Daerah Sumatera Utara untuk mengusut tuntas dugaan penyimpangan, termasuk pengambilan CCTV dan keterlibatan pihak yang bukan aparat.
Mereka menilai rekaman CCTV merupakan bukti kunci yang dapat menjelaskan apakah benar terjadi pengeroyokan atau tidak.
“Kalau CCTV dibuka, semua akan jelas. Kami hanya ingin kebenaran,” tegas keluarga.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak kepolisian setempat maupun Kepolisian Negara Republik Indonesia belum memberikan keterangan resmi terkait keberadaan rekaman CCTV maupun bantahan dari pihak hotel.
Publik kini menanti langkah transparan aparat untuk mengungkap fakta dan memastikan proses hukum berjalan secara adil dan akuntabel. (Red)
