UNIM Mojokerto Jadi Tuan Rumah Tur Ludruk “Jajah Deso Milangkori” Meimura

Kawanindonesia.web.id – Universitas Islam Majapahit (UNIM) Mojokerto menjadi tuan rumah pelaksanaan tur seni pertunjukan ludruk bertajuk “Jajah Deso Milangkori” yang digagas oleh seniman Meimura.

Kegiatan ini menampilkan ludruk garingan atau Besutan yang mengangkat tema kearifan lokal, lingkungan, serta identitas budaya masyarakat.


Acara ini digelar di Gedung Nuswantara Kampus UNIM Mojokerto dan menghadirkan pertunjukan ludruk tanpa iringan gamelan sebagai bentuk inovasi dalam pelestarian seni tradisi.


UNIM Dorong Pelestarian Budaya Lokal
Dekan FKIP UNIM Mojokerto, Dr. Wawan Hermawan, MPd, membuka kegiatan tersebut dan menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pementasan ludruk di lingkungan kampus.

Ia menegaskan bahwa UNIM mendorong ruang ekspresi budaya yang dapat memperkuat karakter mahasiswa.


Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak melupakan akar budaya di tengah derasnya arus modernisasi.


Meimura Angkat Isu Lingkungan Lewat Ludruk
Dalam pementasan tersebut, Meimura mengangkat isu lingkungan melalui kisah penambangan pasir dan batu yang tidak terkendali.

Ia menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga alam agar tidak menimbulkan kerusakan dan bencana di kemudian hari.


Pertunjukan berlangsung interaktif ketika pemain melibatkan penonton untuk naik ke panggung dan ikut memberikan respons terhadap alur cerita yang disampaikan.


Mahasiswa Ikut Tampil dalam Pementasan
Penyelenggara turut melibatkan mahasiswa UNIM dan komunitas seni lokal dalam pertunjukan tersebut.

Salah satu mahasiswa tampil memerankan tokoh dalam lakon, sehingga memperkuat kolaborasi antara dunia akademik dan seni tradisi.


Keterlibatan ini menunjukkan bahwa ludruk tetap dapat hidup dan berkembang melalui partisipasi generasi muda.


Dorong Inovasi Ludruk di Era Modern
Meimura menegaskan bahwa ludruk dapat tampil fleksibel tanpa harus bergantung pada panggung besar atau perangkat tradisional lengkap.

Ia mendorong seniman untuk terus berinovasi agar ludruk tetap relevan dengan perkembangan zaman.


Kegiatan ini menjadi bagian dari program “Jajah Deso Milangkori” yang berfokus pada pemberdayaan ruang publik melalui seni pertunjukan tradisi di berbagai daerah.


Perkuat Kesadaran Budaya
Sejumlah dosen, mahasiswa, dan seniman juga mengikuti diskusi budaya setelah pementasan.

Para narasumber menekankan bahwa ludruk tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan, kritik sosial, dan pelestarian sejarah.


UNIM Mojokerto menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang-ruang kebudayaan yang memperkuat kesadaran budaya di kalangan akademisi dan masyarakat.
(Geng)

Berita Terkait