Kawanindonesia.web.id– Kekayaan anggrek Indonesia terus menarik perhatian komunitas florikultura dunia.
Namun di tengah tingginya minat pasar internasional terhadap anggrek Nusantara, para pelaku usaha dan petani justru masih harus berhadapan dengan berbagai hambatan birokrasi yang dinilai menghambat perkembangan industri anggrek nasional.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pegiat anggrek internasional asal Surabaya, Rudy M. Mintarto. Selama lebih dari 15 tahun, Rudy secara konsisten membawa nama Indonesia dalam berbagai pameran anggrek dunia.
Melalui ajang internasional itu, ia memperkenalkan kekayaan hayati dan budaya Indonesia kepada masyarakat global.
Pada akhir Mei 2026, Rudy kembali berangkat ke Genting Highland, Malaysia, untuk mengikuti pameran anggrek internasional yang berlangsung pada 3 hingga 10 Juni 2026 di Resort World Awana.
Dalam pameran tersebut, ia menampilkan berbagai jenis anggrek Indonesia yang dipadukan dengan unsur budaya Nusantara seperti Jaranan, Tari Remo, Gandrung Banyuwangi, serta ornamen candi.
“Saya ingin Merah Putih tetap hadir di setiap pameran internasional. Dunia harus tahu bahwa Indonesia memiliki anggrek yang luar biasa dan layak diperhitungkan,” ujar Rudy.
Menurutnya, kualitas anggrek Indonesia tidak kalah dibanding negara-negara lain. Bahkan banyak kolektor dan pelaku industri anggrek dunia mengakui keunggulan spesies anggrek yang berasal dari Indonesia.
Namun potensi besar tersebut belum mampu diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi yang signifikan.
Data yang tersedia menunjukkan nilai ekspor anggrek Indonesia masih jauh tertinggal dibanding negara-negara Asia lainnya.
Thailand mampu menghasilkan pendapatan besar dari ekspor anggrek karena pemerintahnya memberikan dukungan menyeluruh mulai dari riset, sertifikasi,
pemasaran, hingga akses perdagangan internasional.
Taiwan bahkan berhasil mengembangkan industri anggrek modern berbasis teknologi kultur jaringan dan greenhouse otomatis.
Negara tersebut mampu menembus pasar global dengan dukungan kebijakan yang jelas serta diplomasi perdagangan yang kuat.
Sementara itu, pelaku usaha anggrek di Indonesia masih menghadapi berbagai prosedur yang dianggap rumit.
Mulai dari perizinan ekspor, proses karantina, hingga regulasi terkait perlindungan spesies yang sering kali memerlukan waktu panjang untuk dipenuhi.
Rudy menilai persoalan utama bukan terletak pada kualitas produk, melainkan pada sistem regulasi yang belum memberikan kemudahan bagi petani dan pelaku budidaya.
“Komunitas anggrek dunia mengakui kualitas anggrek Indonesia sangat bagus. Yang menjadi kendala justru regulasi dan birokrasi yang membuat petani kesulitan berkembang,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa banyak petani membudidayakan anggrek melalui kultur jaringan dan metode budidaya legal.
Namun dalam praktiknya, mereka tetap harus menghadapi proses administrasi yang panjang karena masih terjadi kesulitan dalam membedakan tanaman hasil budidaya dengan spesies yang berasal dari alam liar.
Akibatnya, sebagian petani memilih tidak mengekspor produknya meskipun memiliki peluang pasar yang menjanjikan.
Kondisi tersebut membuat Indonesia kehilangan kesempatan untuk meningkatkan devisa dari sektor florikultura.
Rudy meyakini pemerintah dapat mempercepat pertumbuhan industri anggrek nasional dengan menyederhanakan regulasi,
“memperkuat diplomasi karantina dengan negara tujuan ekspor, serta mendukung riset dan pengembangan varietas unggulan.
Selain itu, Indonesia juga perlu membangun identitas dagang yang kuat agar anggrek Nusantara memiliki posisi yang lebih dikenal di pasar internasional.
Menurutnya, dunia sudah mengenal istilah “Thai Orchid”, sementara Indonesia belum memiliki branding nasional yang mampu mewakili kekayaan ribuan spesies anggrek yang dimiliki.
“Kalau akses pasar dibuka dan regulasi dipermudah, petani anggrek Indonesia bisa berkembang jauh lebih cepat. Potensinya sangat besar,” tegasnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Rudy tetap melanjutkan perjuangannya membawa nama Indonesia ke berbagai pameran internasional.
Ia berharap langkah kecil yang dilakukan komunitas anggrek dapat membuka mata banyak pihak bahwa anggrek bukan sekadar tanaman hias,
melainkan aset ekonomi dan diplomasi budaya yang bernilai tinggi.
Baginya, saat dunia terus memburu keindahan anggrek Indonesia, sudah saatnya negara hadir dengan kebijakan yang mampu mengubah potensi besar itu menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.(Geng)

