Kawanindonesia.web.id – Pengamat sosial dan penulis Jacob Ereste menyoroti dugaan adanya praktik yang ia sebut sebagai “operasi kodok” yang menurut pandangannya menyasar kalangan aktivis mahasiswa di tengah dinamika politik nasional.
Ia menilai berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini perlu menjadi perhatian agar ruang demokrasi tetap terjaga dan gerakan mahasiswa dapat menjalankan perannya secara independen.
Dalam keterangannya di Banten, Jacob menyebut mahasiswa selama ini menjadi salah satu elemen penting dalam menyuarakan aspirasi masyarakat.
Menurutnya, setelah gerakan buruh tidak lagi mendominasi seperti pada masa Reformasi 1998, mahasiswa kembali tampil sebagai kelompok yang aktif mengawal berbagai isu publik.
Jacob mengaitkan pandangannya dengan sejumlah peristiwa yang melibatkan organisasi mahasiswa di berbagai perguruan tinggi.
Salah satunya adalah polemik yang muncul setelah kunjungan Wakil Presiden ke Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), yang memicu beragam respons dari kalangan mahasiswa.
Ia menilai perbedaan sikap di lingkungan kampus merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Namun,
menurutnya, setiap keputusan yang menyangkut nama baik perguruan tinggi sebaiknya melibatkan unsur mahasiswa agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Selain itu, Jacob juga menyinggung pernyataan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Bung Karno (UBK) terkait dugaan adanya upaya memengaruhi arah aksi demonstrasi mahasiswa.
Menurutnya, apabila dugaan tersebut benar, maka praktik semacam itu dapat mencederai independensi gerakan mahasiswa.
Jacob berpendapat bahwa mahasiswa harus tetap menjaga idealisme dan tidak mudah dipengaruhi oleh kepentingan politik apa pun.
Ia menilai gerakan mahasiswa memiliki fungsi sebagai kontrol sosial yang menyuarakan aspirasi masyarakat secara kritis dan bertanggung jawab.
Dalam pandangannya, berbagai polemik yang berkembang di ruang publik juga berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat terhadap institusi negara.
Karena itu, ia berharap seluruh pihak mengedepankan transparansi, penegakan hukum yang adil, serta komunikasi yang terbuka agar tidak memunculkan spekulasi yang dapat memperkeruh situasi.
Jacob juga mengingatkan pentingnya menjaga kepercayaan publik terhadap institusi negara melalui pelayanan yang profesional dan penegakan hukum yang berkeadilan.
Menurutnya, setiap dinamika politik harus disikapi dengan mengedepankan prinsip demokrasi, dialog, dan penghormatan terhadap hak menyampaikan pendapat.
Ia berharap mahasiswa tetap menjalankan perannya sebagai agen perubahan dengan mengedepankan cara-cara yang konstitusional, damai, dan bertanggung jawab.
Di sisi lain, ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga ruang demokrasi agar tetap terbuka bagi penyampaian aspirasi masyarakat.
Menurut Jacob, perbedaan pandangan merupakan bagian dari kehidupan demokrasi.
Karena itu, seluruh elemen bangsa perlu menjaga komunikasi yang sehat dan menghindari langkah-langkah yang dapat menimbulkan polarisasi maupun mengurangi kepercayaan publik terhadap proses demokrasi.(Kontributor Yacob)

