Hari Keluarga Nasional, Lilik Hendarwati Soroti Bahaya Fenomena Fatherless bagi Masa Depan Anak

Kawanindonesia.web.id – Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Timur, Lilik Hendarwati, menyoroti bahaya fenomena fatherless atau minimnya keterlibatan ayah dalam proses tumbuh kembang anak pada momentum peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas).

Menurutnya, keluarga yang kuat menjadi fondasi utama dalam mencetak generasi yang berkarakter, sehat secara mental, dan siap menghadapi tantangan masa depan.


Lilik mengajak seluruh keluarga di Jawa Timur menjadikan Hari Keluarga Nasional sebagai momentum untuk memperkuat ketahanan keluarga dengan meningkatkan peran ayah dalam pengasuhan.

Ia menilai kehadiran ayah tidak hanya penting sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai sosok yang memberikan kasih sayang, perlindungan, dan teladan bagi anak.


“Hari Keluarga Nasional mengingatkan kita bahwa keluarga adalah sekolah pertama bagi setiap anak.

Karena itu, kita harus memberi perhatian serius terhadap fenomena fatherless, yaitu kondisi ketika ayah tidak hadir secara optimal dalam proses tumbuh kembang anak, baik karena tuntutan pekerjaan, perceraian, maupun rendahnya keterlibatan dalam pengasuhan,” ujar Lilik, Rabu (1/7/2026).


Anggota DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan Surabaya itu menjelaskan bahwa berbagai penelitian menunjukkan keterlibatan ayah memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan karakter, kesehatan mental, kepercayaan diri, hingga keberhasilan pendidikan anak.


Menurutnya, anak yang tumbuh dengan perhatian dan pendampingan dari kedua orang tuanya cenderung memiliki kemampuan sosial yang lebih baik serta lebih siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.


“Kehadiran ayah bukan sekadar memberikan nafkah. Ayah juga harus menghadirkan kasih sayang, keteladanan, perlindungan, dan menjadi pendamping bagi anak-anaknya.

Peran itu sangat penting dalam membentuk karakter generasi masa depan,” katanya.


Lilik mengimbau para ayah untuk meluangkan waktu berkualitas bersama keluarga di tengah kesibukan bekerja.

Ia menilai komunikasi yang hangat, perhatian, dan kedekatan emosional akan memperkuat hubungan antara orang tua dan anak sekaligus mencegah munculnya berbagai persoalan sosial di kemudian hari.


“Para ayah perlu mendengar, membersamai, dan menjadi sahabat bagi anak-anaknya.

Kehangatan keluarga hari ini merupakan investasi besar untuk menciptakan generasi bangsa yang tangguh dan berakhlak mulia,” tuturnya.


Selain itu, Lilik mengapresiasi berbagai program pemerintah yang mendorong penguatan ketahanan keluarga melalui pendidikan keluarga, pendampingan parenting, perlindungan anak, serta kampanye peningkatan peran ayah dalam pengasuhan.


Namun demikian, ia menilai upaya tersebut perlu terus diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah,

sekolah, masyarakat, dan keluarga agar fenomena fatherless tidak berkembang menjadi persoalan sosial yang semakin luas.


“Kita harus membangun sinergi yang kuat untuk memastikan setiap anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh cinta, perhatian, dan pendampingan dari kedua orang tuanya,” ujarnya.


Lilik menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia yang unggul tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan formal.

Menurutnya, keluarga tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter dan kepribadian anak.
“Membangun generasi unggul harus dimulai dari keluarga yang harmonis.

Mari kita hadir untuk anak-anak kita, karena mereka yang tumbuh dengan cinta, perhatian, dan keteladanan orang tua akan menjadi generasi yang lebih tangguh, berakhlak, serta siap membangun Indonesia di masa depan,” pungkasnya.(Bagas)


Berita Terkait