Kawanindonesia.web.id // Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, Ir. R. Haidar Alwi, MT, menyoroti transformasi Polri melalui konsep Presisi yang dinilainya telah berkembang menjadi paradigma baru dalam sistem keamanan nasional Indonesia.
Ia menilai pendekatan tersebut memperkuat kinerja kepolisian melalui prinsip prediktif, transparan, dan humanis.
Haidar Alwi menjelaskan bahwa implementasi Presisi yang dijalankan di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah membawa perubahan signifikan dalam cara kerja kepolisian.
Ia menyebut Polri kini tidak hanya bertindak setelah terjadi peristiwa, tetapi juga aktif membaca potensi gangguan sejak dini.
Ia menegaskan bahwa pendekatan prediktif dalam Presisi mendorong aparat kepolisian untuk mengidentifikasi pola sosial yang berpotensi menimbulkan konflik.
Dengan cara itu, Polri dapat melakukan langkah pencegahan sebelum gangguan keamanan berkembang lebih luas.
Selain itu, Haidar Alwi menilai aspek transparansi dalam Presisi telah meningkatkan akuntabilitas pelayanan publik.
Ia mencontohkan penerapan sistem digital seperti ETLE serta layanan administrasi kepolisian berbasis daring yang dinilai mempersempit ruang interaksi langsung yang berpotensi menimbulkan penyimpangan.
Dalam pandangannya, pendekatan humanis juga menjadi salah satu pilar penting dalam transformasi Polri.
Ia menyebut kepolisian kini semakin mengedepankan pelayanan yang berorientasi pada perlindungan masyarakat serta penyelesaian masalah dengan pendekatan yang lebih persuasif.
Haidar Alwi menegaskan bahwa Presisi tidak hanya bekerja sebagai program teknis, tetapi juga sebagai kerangka berpikir baru dalam mengelola keamanan negara.
Ia menyebut konsep tersebut telah membentuk sistem yang lebih adaptif terhadap dinamika sosial dan perkembangan teknologi.
Ia juga menilai integrasi berbagai fungsi kepolisian seperti reserse, binmas, forensik, hingga unit siber menunjukkan adanya kesatuan sistem kerja yang semakin solid.
Menurutnya, setiap elemen Polri kini bergerak dalam satu arah yang sama untuk menjaga stabilitas nasional.
Lebih lanjut, Haidar Alwi menilai tingkat kepercayaan publik terhadap Polri yang terus berada di angka tinggi menjadi bukti bahwa transformasi tersebut berjalan efektif.
Ia menyebut kepercayaan publik tidak dibangun secara instan, melainkan melalui konsistensi kerja dan perbaikan sistem yang berkelanjutan.
Namun demikian, ia juga mengingatkan pentingnya partisipasi masyarakat dalam memahami setiap proses perubahan yang sedang berlangsung.
Ia menilai kritik tetap diperlukan, tetapi harus disertai dengan pemahaman yang utuh agar tidak menimbulkan kesalahpahaman publik.
Haidar Alwi menutup pandangannya dengan menegaskan bahwa Presisi akan menjadi semakin kuat apabila dipahami sebagai kesadaran bersama dalam menjaga keamanan nasional.
Ia menyebut bahwa keamanan negara tidak hanya bergantung pada aparat, tetapi juga pada dukungan dan kesadaran masyarakat secara luas.(Red)

