Bangun Kesadaran Ekologis, Ekoteologi Masuk Kurikulum Pendidikan

Kawanindonesia.id Banten – Upaya membangun kesadaran ekologis di tengah masyarakat terus diperkuat melalui pendekatan pendidikan.

Salah satunya dengan memasukkan konsep ekoteologi ke dalam kurikulum pendidikan agama sebagai langkah strategis menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.

Pengamat sosial dan budaya, Jacob Ereste, menegaskan bahwa ekoteologi menggabungkan nilai-nilai spiritual dengan tanggung jawab manusia dalam menjaga kelestarian alam.

Menurutnya, pendekatan ini penting di tengah meningkatnya krisis lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam dan menurunnya kesadaran moral.

“Ekoteologi mengajarkan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas sosial, tetapi juga bagian dari tanggung jawab spiritual manusia,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).

Ia menjelaskan, berbagai tradisi lokal di Indonesia sebenarnya telah lama mengajarkan harmoni antara manusia dan alam.

Kearifan tersebut tercermin dalam kehidupan masyarakat adat yang menempatkan alam sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan kepercayaan terhadap Sang Pencipta.

Namun, dalam praktik modern, nilai-nilai tersebut mulai tergerus. Masih banyak ditemukan persoalan lingkungan seperti pengelolaan sampah yang tidak optimal, fasilitas umum yang kurang terawat,

“hingga rendahnya disiplin masyarakat dalam menjaga kebersihan.Melalui integrasi ekoteologi dalam kurikulum pendidikan,

pemerintah dan lembaga pendidikan diharapkan mampu membentuk karakter generasi muda yang lebih peduli terhadap lingkungan.

Pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan sikap dan perilaku yang bertanggung jawab.

Jacob menilai, langkah ini harus diiringi dengan implementasi nyata di lapangan agar tidak sekadar menjadi konsep teoritis.

Peran guru, keluarga, dan lingkungan sekitar sangat menentukan keberhasilan dalam menanamkan nilai-nilai tersebut.

“Kesadaran ekologis harus dimulai dari diri sendiri. Pendidikan menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan menjaga lingkungan secara konsisten,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa manusia memiliki peran sebagai khalifah di muka bumi,

sehingga berkewajiban menjaga keseimbangan alam sebagai amanah ilahiah. Dengan pendekatan ekoteologi,

diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual,

“tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian lingkungan.

Melalui langkah ini, Indonesia berpeluang memperkuat peran sebagai bangsa yang tidak hanya menjaga alamnya sendiri,

tetapi juga berkontribusi dalam membangun peradaban dunia yang lebih harmonis dan berkelanjutan.(Kontributor banten yacob)

Berita Terkait