Pendidikan Islam di Era Digital Jadi Fokus Seminar Nasional Milad Ke-49 Diniyyah Al-Azhar

Kawanindonesia.web.id– Pendidikan Islam di era digital menjadi fokus pembahasan dalam Seminar Nasional 2026 yang diselenggarakan Pondok Pesantren Diniyyah Al-Azhar Muara Bungo, Senin (3/8/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Milad Ke-49 Diniyyah Al-Azhar yang mengusung tema “Menjaga Tradisi, Terus Berinovasi.

“Seminar yang berlangsung di Panggung Imam Syafi’i menghadirkan empat akademisi sebagai narasumber, yaitu Rektor UIN Sjech M.

Djamil Djambek Bukittinggi Prof. Dr. Silfia Hanani, M.Si., Ketua STKIP Al-Azhar Diniyyah Jambi Dr. H. Abdul Muhaimin El Yusufi, B.Sy.E., M.E., Rektor UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd., serta Ketua STIT Al-Azhar Diniyyah Jambi Dr. Bahera Mursalim, S.Pd.I., M.Pd.

Diskusi dipandu oleh Dr. Suci Nora Julina Putri, M.Pd.Panitia membuka seminar untuk masyarakat umum sehingga para akademisi,

guru, mahasiswa, santri, dan pemerhati pendidikan dapat berdiskusi mengenai arah pengembangan pendidikan Islam di tengah pesatnya transformasi digital.

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Silfia Hanani menegaskan bahwa lembaga pendidikan Islam tidak cukup hanya mengajarkan pemanfaatan teknologi.

Menurutnya, sekolah dan pesantren juga harus membangun karakter peserta didik agar mampu menggunakan teknologi secara bijak, bertanggung jawab, dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Ia memperkenalkan Model 5T Karakter Digital Santri sebagai pendekatan pembentukan karakter di era digital.

Model tersebut meliputi tabayun, yaitu membiasakan peserta didik memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya; tasamuh,

menghargai perbedaan dengan tetap berpegang pada prinsip keislaman; ta’awun, memanfaatkan teknologi untuk berkolaborasi dan berbagi manfaat; tawazun, menjaga keseimbangan antara penggunaan teknologi,

belajar, ibadah, dan kehidupan sosial; serta taat hukum, yaitu mematuhi aturan yang berlaku dalam aktivitas digital, termasuk ketentuan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Prof. Silfia juga memaparkan hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa pengaturan penggunaan internet secara terukur mampu memberikan dampak positif terhadap kualitas ibadah dan kedisiplinan santri.

Ia berharap lembaga pendidikan Islam mampu melahirkan generasi yang tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, Ketua STKIP Al-Azhar Diniyyah Jambi, Dr. H. Abdul Muhaimin El Yusufi, menyampaikan bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah berbagai sektor kehidupan, termasuk dunia pendidikan.

Menurutnya, transformasi digital harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar teknologi benar-benar memberikan manfaat.

Ia menegaskan bahwa teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran dan tidak akan pernah menggantikan peran guru dalam membentuk karakter, akhlak, serta nilai-nilai kemanusiaan peserta didik.

Abdul Muhaimin juga mengajak lembaga pendidikan Islam memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran, penelitian, dakwah, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Namun, ia mengingatkan pentingnya membangun literasi digital agar peserta didik mampu berpikir kritis, menyaring informasi, dan menggunakan media digital secara bertanggung jawab.

Menurutnya, kurikulum pendidikan Islam perlu mengintegrasikan penguasaan teknologi dengan pendidikan karakter sehingga mampu menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik sekaligus memiliki integritas moral.

Seminar Nasional tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam peringatan Milad Ke-49 Diniyyah Al-Azhar yang berdiri sejak 5 Agustus 1977.

Selama hampir lima dekade, lembaga pendidikan Islam tersebut terus mengembangkan berbagai jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, serta memperluas kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan di dalam dan luar negeri.

Melalui seminar ini, Diniyyah Al-Azhar menegaskan komitmennya untuk terus menjaga tradisi pendidikan Islam sekaligus berinovasi menghadapi perkembangan zaman.

Para narasumber sepakat bahwa masa depan pendidikan Islam bergantung pada kemampuannya mencetak generasi yang cakap memanfaatkan teknologi, berkarakter kuat,

berakhlak mulia, serta mampu menghadirkan inovasi bagi kemajuan bangsa dan peradaban.(Kontributor Rochman)

Berita Terkait