Kawanindonesia.web.id – Penulis dan pemerhati sosial Jacob Ereste menyoroti krisis moral yang dinilainya menjadi salah satu tantangan dalam upaya membangun sistem ekonomi Indonesia yang berkeadilan.
Ia mendorong masyarakat dan pemerintah kembali memperkuat keberanian, kebersihan, kejujuran, serta keikhlasan sebagai nilai dasar untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.
Jacob menyampaikan pandangannya mengenai kondisi ekonomi Indonesia yang menurutnya menghadapi tantangan berat akibat berkembangnya praktik ekonomi yang saling menekan.
Ia menilai Indonesia membutuhkan keberanian untuk membangun sistem ekonomi yang berpijak pada nilai-nilai Pancasila dan semangat kebersamaan.
Menurut Jacob, gagasan ekonomi Pancasila yang pernah berkembang melalui pemikiran para ahli ekonomi Indonesia pada 1980-an maupun gagasan Bung Hatta sejak awal kemerdekaan masih relevan untuk dikembangkan.
Namun, ia menilai persoalan moral dan lemahnya komitmen dalam menjalankan nilai kebersamaan menjadi tantangan dalam mewujudkan gagasan tersebut.
Ia berpandangan masyarakat perlu memperbaiki etika, moral, dan akhlak agar pembangunan tidak justru melahirkan kerusakan sosial yang semakin luas.
Menurutnya, pembangunan ekonomi tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga harus memastikan manfaatnya dirasakan secara adil oleh seluruh masyarakat.
Jacob menilai cita-cita membangun masyarakat yang adil dan makmur mulai kehilangan makna ketika sebagian orang hanya mengejar kesejahteraan untuk kepentingan pribadi.
Ia mengingatkan bahwa semangat tersebut berbeda dengan prinsip kebersamaan yang menjadi dasar koperasi dan gotong royong.
“Adil dan makmur kini hanya untuk diri sendiri, lantaran ada anggapan tak lagi perlu dan penting untuk dibagi bersama orang lain,” tulis Jacob dalam pandangannya.
Ia menilai masyarakat Indonesia memiliki tradisi gotong royong yang kuat.
Karena itu, ia mendorong semangat kebersamaan tersebut kembali menjadi landasan dalam menjalankan pembangunan nasional.
Jacob juga menyoroti pelaksanaan sejumlah program pemerintah. Ia menilai berbagai program seperti Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, Koperasi Merah Putih, hingga program Universitas Republik Indonesia memiliki tujuan yang baik.
Namun, ia mengingatkan pemerintah agar memperkuat pengawasan dalam setiap tahap pelaksanaannya.
Menurutnya, kelemahan pengawasan dapat membuka ruang bagi berbagai persoalan dalam implementasi program.
Karena itu, ia menilai kritik dan pengawasan masyarakat harus pemerintah tempatkan sebagai bagian penting dalam pembangunan.
Jacob menegaskan masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton atau mengikuti setiap kebijakan tanpa memberikan kritik.
Ia memandang partisipasi publik melalui kritik dan pengawasan dapat membantu pemerintah memastikan program berjalan sesuai tujuan.
Ia juga menilai pemerintah perlu membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik.
Menurutnya, pembangunan nasional membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, meskipun setiap orang memiliki peran yang berbeda.
“Pembangunan untuk negeri dan bangsa ini harus dilakukan bersama, meski tidak semua harus mengaduk semen dan menegakkan tiang beton,” ujarnya.
Dalam pandangannya, Jacob juga menyinggung konsep pembangunan nasional yang idealnya mengarah pada kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian dalam kebudayaan.
Namun, ia menilai praktik kepentingan pribadi dan kelompok masih menjadi tantangan dalam mewujudkan tujuan tersebut.
Jacob mengkritik kecenderungan kepentingan pribadi, kelompok, dan hubungan kedekatan yang dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan.
Ia mendorong pemerintah dan masyarakat mengutamakan kepentingan bersama dalam setiap kebijakan pembangunan.Selain persoalan ekonomi dan pembangunan, Jacob turut menyoroti pentingnya penguatan nilai-nilai Pancasila.
Ia menilai pemahaman terhadap Pancasila tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan.
Ia berharap masyarakat dan pemerintah kembali menghidupkan nilai keberanian, kebersihan, kejujuran, dan keikhlasan dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurut Jacob, nilai-nilai tersebut dapat menjadi fondasi untuk memperkuat ekonomi yang berkeadilan.
Dengan mengedepankan gotong royong, pengawasan publik, dan kepentingan bersama, pembangunan diharapkan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.
Jacob menegaskan bahwa pembangunan ekonomi Indonesia membutuhkan komitmen bersama. Pemerintah harus menjalankan program secara transparan dan bertanggung jawab, sementara masyarakat perlu aktif mengawasi serta memberikan kritik konstruktif.
Ia berharap penguatan nilai Pancasila dan semangat gotong royong dapat kembali menjadi bagian penting dalam pembangunan nasional sehingga cita-cita kesejahteraan yang adil dan merata dapat diwujudkan.(Kontributor Yacob)

