Memaknai Usia Bonus, Ketika Kematian Tak Lagi Ditakuti tapi Didekati

Kawanindonesia.web.id– Seorang pria lanjut usia memaknai masa hidupnya sebagai “usia bonus” dengan cara yang tak biasa.

Ia tidak lagi memandang kematian sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai kepastian yang kian dekat dan layak disambut dengan kesiapan batin.

Pria tersebut mengaku sering merasakan bahwa kematian telah berkali-kali mendekatinya.

Pengalaman itu justru mendorongnya untuk lebih bersyukur setiap kali terbangun dari tidur.

Ia tidak lagi sekadar menikmati lelapnya istirahat, tetapi mensyukuri kesempatan hidup yang masih diberikan Tuhan.

Ia menjalani hidup dengan sederhana, jauh dari kemewahan.

Meski sebagian orang menilai kehidupannya berada di bawah standar, ia tetap merasa cukup.

Ia menegaskan bahwa kesehatan dan ketenangan batin menjadi hal utama yang ia jaga,

“bukan harta atau penampilan.Dalam kesehariannya, ia menunjukkan sikap tenang dan tidak terbebani.

Ia menghadapi berbagai godaan duniawi tanpa gejolak berarti.

Sikap itu membuat sebagian orang menganggapnya memiliki kedekatan dengan nilai-nilai spiritual, meski ia tidak menampilkan simbol religius secara mencolok.

Menariknya, di balik kesederhanaannya, ia justru dikenal sebagai sosok yang aktif berdiskusi tentang isu-isu sosial, politik, dan ketatanegaraan.

Latar belakangnya di bidang teknik konstruksi membentuk pola pikirnya yang rasional,

“terukur, dan tidak spekulatif dalam memandang kehidupan.Kini, di usia senja yang ia sebut sebagai babak bonus, ia menyatakan kesiapan untuk menghadapi kematian kapan saja.

Ia menyadari bahwa setiap hari yang ia jalani merupakan anugerah yang tidak semua orang dapatkan.Bahkan dalam hal sederhana seperti makan,

ia tetap menikmati apa yang tersedia, meski kondisi fisiknya telah menurun, termasuk kehilangan seluruh giginya beberapa tahun lalu.

Namun hal itu tidak mengurangi rasa syukurnya terhadap hidup.Ia meyakini bahwa ketentuan Tuhan jauh lebih pasti daripada perkiraan manusia. Baginya, kematian bukanlah akhir yang menakutkan,

melainkan bagian dari perjalanan hidup yang harus diterima dengan ikhlas.Pandangan hidup tersebut menjadi pengingat bahwa usia senja bukan sekadar tentang menunggu akhir,

“tetapi tentang memaknai setiap detik kehidupan dengan rasa syukur dan kesiapan menghadapi kepastian yang tak terelakkan.(Kontributor banten yacob)

Berita Terkait