Kawanindonesia.web.id— Publik semakin aktif menggunakan kiasan budaya untuk mengkritik dinamika politik nasional menjelang Pemilu 2024.
Salah satu yang mencuat adalah kisah “Petruk Jadi Ratu”, yang dianggap merepresentasikan situasi politik yang dinilai terbalik dan penuh kontroversi.
Sejumlah pengamat dan tokoh masyarakat menilai, penggunaan narasi pewayangan tersebut bukan tanpa alasan.
Mereka melihat adanya pergeseran nilai dan etika dalam praktik politik, terutama terkait manuver kekuasaan dan pembentukan koalisi.
Tokoh spiritual Sri Eko Sriyanto Galgendu sebelumnya juga menyinggung analogi tokoh Dasamuka dalam konteks kepemimpinan nasional.
Pernyataan itu memicu perbincangan luas di ruang publik karena dinilai menggambarkan kompleksitas dan ambisi kekuasaan yang semakin terlihat menjelang pesta demokrasi.
Di sisi lain, dinamika politik yang melibatkan Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, dan Prabowo Subianto turut menjadi sorotan.
Langkah-langkah politik yang terjadi memunculkan beragam interpretasi dari masyarakat, termasuk soal loyalitas politik dan etika dalam berpartai.
Wartawan senior Panda Nababan juga sempat mengangkat isu tersebut dalam ruang diskusi publik, dengan menyinggung ungkapan
“kacang lupa kulitnya” yang kemudian ramai diperbincangkan.
Ungkapan itu digunakan untuk menggambarkan relasi politik yang dinilai berubah arah.
Selain itu, langkah Airlangga Hartarto dalam menentukan arah dukungan politik juga menuai respons beragam,
termasuk kritik dari internal partai. Sejumlah pihak menilai keputusan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan mekanisme organisasi yang ideal.
Budayawan Goenawan Mohamad turut menyuarakan pandangan kritis terhadap kondisi tersebut.
Ia menilai bahwa penggunaan simbol dan analogi budaya menunjukkan keresahan publik terhadap arah demokrasi dan praktik kekuasaan saat ini.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa masyarakat tidak hanya mengikuti perkembangan politik secara pasif,
tetapi juga aktif menafsirkan dan mengkritiknya melalui pendekatan budaya.
Kisah “Petruk Jadi Ratu” pun menjadi simbol perlawanan naratif terhadap situasi yang dianggap tidak sejalan dengan harapan publik.
Menjelang Pemilu 2024, berbagai kritik ini menjadi pengingat penting bagi para elite politik.
Publik berharap proses demokrasi berjalan secara jujur, adil, dan tetap berpijak pada nilai-nilai etika serta kepentingan rakyat luas.(Kontributor banten yacob)

