Kawanindonesia.web.id – Penulis dan pengamat sosial Jacob Ereste menilai seorang pemimpin tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual dalam menjalankan amanah. Menurutnya, kepemimpinan yang ideal harus dibangun melalui keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual agar setiap kebijakan memiliki makna, arah, serta berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan Jacob Ereste dalam opini yang ditulis di Tangerang pada 7 Juni 2026.
Ia menjelaskan bahwa kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient/IQ) berfungsi sebagai kemampuan berpikir, menganalisis, dan mengambil keputusan, sedangkan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient/SQ) menjadi landasan dalam memaknai setiap tindakan serta menjaga etika dan moral seorang pemimpin.
Menurut Jacob, kecerdasan intelektual tanpa diimbangi nilai-nilai spiritual hanya akan menghasilkan keberhasilan yang bersifat material. Kondisi tersebut, kata dia, berpotensi melahirkan pemimpin yang mampu meraih jabatan, kekayaan, atau popularitas, tetapi gagal menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia mengibaratkan kecerdasan intelektual sebagai mesin penggerak, sedangkan kecerdasan spiritual berfungsi sebagai pengendali yang mengarahkan seseorang agar tetap berada di jalur yang benar.
Dengan keseimbangan keduanya, seorang pemimpin dinilai akan lebih mampu menjaga integritas, mengendalikan diri, serta mengambil keputusan secara bijaksana.
Jacob juga menekankan pentingnya nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, keikhlasan, kerendahan hati, serta kemampuan menerima kritik sebagai bagian dari kecerdasan spiritual.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut akan memperkuat karakter seorang pemimpin dalam menghadapi berbagai tantangan tanpa kehilangan orientasi pada kepentingan publik.
Dalam opininya, Jacob mengingatkan bahwa pemimpin yang hanya mengejar capaian material cenderung kehilangan rasa empati dan kepedulian terhadap masyarakat.
Akibatnya, berbagai kebijakan yang diambil berpotensi mengabaikan kepentingan rakyat dan hanya berorientasi pada kekuasaan maupun kepentingan pribadi.
Ia juga menilai kecerdasan spiritual mampu membentuk pribadi yang lebih terbuka terhadap masukan, tidak mudah bersikap arogan, serta mampu mengendalikan ambisi.
Menurutnya, sikap rendah hati menjadi salah satu ciri utama pemimpin yang memahami makna tanggung jawab sebagai amanah dari masyarakat.
Jacob Ereste menegaskan bahwa kecerdasan spiritual tidak hanya dibutuhkan oleh pejabat publik, tetapi juga oleh setiap individu yang memegang peran sebagai pemimpin, termasuk politisi, akademisi, aktivis,
hingga pemimpin organisasi. Dengan bekal tersebut, mereka dinilai akan lebih siap menghadapi persoalan secara bijaksana dan tetap mengedepankan nilai kemanusiaan.
Di akhir opininya, Jacob mengajak para pemimpin untuk terus mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus menjaga kedekatan dengan rakyat.
Menurutnya, kepercayaan yang diberikan masyarakat harus dijawab melalui kerja nyata, integritas, dan komitmen untuk mewujudkan kesejahteraan, kenyamanan, serta ketenteraman bagi seluruh rakyat.
Bagi Jacob Ereste, perpaduan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual merupakan fondasi penting dalam membangun kepemimpinan yang berintegritas, beretika, dan mampu menghadirkan kebijakan yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.(Red)

