Kawanindonesia.web.id – Musyawarah Wilayah (Muswil) Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Jawa Timur resmi menetapkan Pitono Nugroho sebagai Ketua Umum ICMI Jawa Timur periode 2026–2031.
Penetapan tersebut berlangsung dalam Muswil yang digelar di Gedung Plaza Airlangga, Kampus C Universitas Airlangga, Surabaya, Sabtu (4/7/2026).
Terpilihnya Pitono Nugroho menandai dimulainya kepemimpinan baru ICMI Jawa Timur yang berkomitmen memperkuat peran organisasi sebagai wadah kolaborasi intelektual dalam mendukung pembangunan daerah melalui gagasan, riset, dan inovasi yang berdampak bagi masyarakat.
Muswil mengangkat tema “Meneguhkan Peran Intelektual Muslim sebagai Suluh Peradaban Inklusif dan Transformatif”, yang menegaskan pentingnya kontribusi kaum intelektual dalam menghadirkan solusi atas berbagai tantangan pembangunan melalui kolaborasi lintas disiplin dan lintas sektor.
Dalam pidato perdananya, Pitono Nugroho memperkenalkan konsep Modal Keberlanjutan sebagai paradigma pembangunan yang akan menjadi arah gerak ICMI Jawa Timur selama lima tahun ke depan.
Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus mampu menjaga, mengembangkan, dan mewariskan seluruh aset peradaban agar tetap memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
“Jawa Timur membutuhkan pembangunan yang menyeluruh. Karena itu, ICMI akan mengedepankan konsep Modal Keberlanjutan agar setiap kebijakan mampu memperkuat kualitas manusia, lingkungan, ekonomi, budaya, dan tata kelola secara berimbang,” ujar Pitono.
Sebagai implementasi konsep tersebut, ICMI Jawa Timur akan mengembangkan Kerangka Tujuh Modal Pembangunan yang mencakup Modal Manusia,
Modal Sosial, Modal Budaya, Modal Ekonomi, Modal Lingkungan, Modal Infrastruktur, dan Modal Tata Kelola.
Pitono menjelaskan, ketujuh modal tersebut harus berjalan secara terpadu dan saling memperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, pesantren, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, komunitas profesional, hingga generasi muda.
Ia menegaskan, ICMI harus berperan sebagai simpul yang mempertemukan seluruh potensi intelektual Jawa Timur. Organisasi ini tidak hanya menghasilkan gagasan, tetapi juga menghubungkan hasil riset dengan kebijakan publik, inovasi dengan kebutuhan masyarakat, serta nilai-nilai Islam dengan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan.
Untuk mewujudkan visi tersebut, kepengurusan ICMI Jawa Timur periode 2026–2031 akan memprioritaskan penguatan riset kebijakan, pengembangan pusat kajian strategis, pendampingan pemerintah daerah, pemberdayaan masyarakat berbasis inovasi, serta memperluas jejaring kerja sama di tingkat nasional maupun internasional.
Melalui kepemimpinan baru ini, ICMI Jawa Timur menegaskan komitmennya menjadi mitra strategis pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam menghadirkan pembangunan yang berkelanjutan.
Dengan mengusung konsep Tujuh Modal Pembangunan, organisasi tersebut berharap mampu melahirkan berbagai gagasan dan program yang mendorong terwujudnya Jawa Timur yang maju, berdaya saing, berkeadilan, dan sejahtera.(Geng)

