Hari Lahir Pancasila 2026 Jadi Sorotan, Jacob Ereste Nilai BPIP Belum Maksimal dalam Pembinaan Ideologi

Kawanindonesia.web.id — Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 kembali menjadi perhatian publik setelah penulis dan mantan jurnalis,

“Jacob Ereste, menilai Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) belum menunjukkan kinerja maksimal dalam menjalankan tugas pembinaan ideologi di Indonesia.


Jacob Ereste menyoroti bahwa BPIP masih cenderung menampilkan kegiatan bersifat seremonial dalam momentum peringatan Hari Lahir Pancasila,

tanpa diikuti penguatan implementasi nilai-nilai Pancasila secara nyata di tengah masyarakat.


Ia menegaskan bahwa BPIP memiliki mandat strategis berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2018, yaitu merumuskan kebijakan,

mengoordinasikan pembinaan ideologi, melaksanakan pendidikan dan pelatihan, serta memberikan rekomendasi kebijakan kepada lembaga negara apabila terdapat regulasi yang tidak sesuai dengan nilai Pancasila.


Namun, menurut Jacob, pelaksanaan mandat tersebut belum terlihat optimal dalam bentuk program yang benar-benar menyentuh kehidupan publik.


“BPIP belum menunjukkan secara luas hasil kerja pembinaan ideologi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Yang terlihat masih dominan kegiatan seremonial,” ujar Jacob dalam keterangannya.


Ia juga menyoroti pelaksanaan upacara Hari Lahir Pancasila 2026 yang mengacu pada Surat Edaran Kepala BPIP Nomor 2 Tahun 2026 tentang pedoman upacara nasional.

Menurutnya, pedoman tersebut memang penting sebagai standar kegiatan, tetapi belum cukup untuk memperkuat internalisasi nilai Pancasila dalam praktik kehidupan berbangsa.


Jacob mendorong BPIP untuk memperluas fokus kerja dari sekadar kegiatan seremoni menjadi program konkret yang dapat membentuk karakter bangsa secara berkelanjutan, termasuk di lingkungan pendidikan, birokrasi, dan sektor pelayanan publik.


Ia menilai, penguatan ideologi Pancasila seharusnya tercermin dalam perilaku penyelenggara negara dan kualitas pelayanan publik yang lebih adil dan beradab.


“Pembinaan ideologi tidak cukup hanya dengan upacara, tetapi harus masuk dalam praktik kehidupan sehari-hari,” tegasnya.


Jacob juga menyinggung masih adanya persoalan bangsa seperti korupsi, ketimpangan sosial, serta rendahnya kualitas pelayanan publik yang menurutnya menunjukkan bahwa internalisasi nilai Pancasila belum berjalan maksimal.


Hingga berita ini diturunkan, BPIP belum memberikan tanggapan resmi atas kritik yang disampaikan tersebut.(Kontributor Yacob)

Berita Terkait