Kawanindonesia.web.id – Penulis dan budayawan Jacob Ereste mengajak masyarakat Indonesia memaknai kemerdekaan sebagai sebuah perjalanan spiritual yang membebaskan manusia dari keserakahan, ketamakan, dan berbagai belenggu moral.
Gagasan tersebut ia tuangkan dalam tulisan berjudul Kemerdekaan Bebas dari Belenggu Diri dari Keserakahan Kerakusan yang Tidak Bertepi yang ditulis di Banten, 1 Agustus 2026.
Dalam tulisannya, Jacob Ereste menjadikan Candi Borobudur sebagai simbol perjalanan hidup manusia sekaligus sumber inspirasi untuk membangun karakter bangsa.
Menurutnya, pembangunan Borobudur pada masa Kerajaan Syailendra tidak semata-mata bertujuan menghadirkan bangunan megah, melainkan menjadi panduan spiritual yang menggambarkan perjalanan manusia menuju kehidupan yang lebih bermakna.
Ia menjelaskan bahwa konsep Borobudur terdiri atas tiga tingkatan, yakni Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Ketiga tingkatan tersebut menggambarkan tahapan manusia dalam mengendalikan hawa nafsu, memahami kehidupan dunia, hingga mencapai pembebasan diri dari ego dan keserakahan.
Jacob Ereste menilai nilai-nilai yang terkandung dalam Borobudur masih sangat relevan diterapkan dalam kehidupan berbangsa saat ini.
Menurutnya, Indonesia memerlukan kepemimpinan yang berlandaskan integritas, kejujuran, serta semangat pengabdian kepada masyarakat, sebagaimana semangat kebersamaan yang melandasi pembangunan candi pada masa lampau.
Ia juga mengungkapkan bahwa proses pembangunan Borobudur melibatkan raja, pemuka agama, para bhikkhu, dan masyarakat.
Kolaborasi tersebut, menurutnya, mencerminkan kuatnya budaya gotong royong yang mampu memperkokoh negara sekaligus membangun moral masyarakat.
Selain Borobudur, Jacob Ereste menyebut Candi Prambanan, Muara Jambi, dan Muara Takus sebagai warisan peradaban Nusantara yang menyimpan nilai sejarah, budaya, dan spiritual.
Ia memandang keberadaan candi-candi tersebut layak dijadikan inspirasi dalam membangun karakter bangsa yang menjunjung tinggi kebersamaan, kejujuran, dan tanggung jawab.
Dalam refleksinya, Jacob Ereste menegaskan bahwa kemerdekaan sejati tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan.
Menurutnya, kemerdekaan juga berarti terbebas dari kemiskinan, kebodohan, ketakutan, serta berbagai bentuk keserakahan yang dapat merusak kehidupan berbangsa.
Ia mengingatkan bahwa bangsa Indonesia perlu terus memperkuat nilai-nilai spiritual dan moral agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada kemajuan material,
tetapi juga mampu melahirkan masyarakat yang adil, berintegritas, dan saling peduli.
Melalui tulisannya, Jacob Ereste mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan filosofi Borobudur sebagai inspirasi untuk mengisi kemerdekaan dengan semangat pengabdian, kebersamaan, dan pengendalian diri.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut tetap relevan sebagai fondasi dalam membangun Indonesia yang lebih bermartabat dan berkeadaban.(Kontributor Yacob)

