GMRI Rayakan Dua Tahun Forum Senin-Kamis, Kitab MA HA IS NA YA Siap Diluncurkan

Kawanindonesia.web.id– Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) memasuki dua tahun penyelenggaraan forum diskusi rutin Senin-Kamis atau Kamis-Senin.

Selama dua tahun terakhir, forum tersebut menjadi ruang dialog yang melahirkan berbagai gagasan mengenai kebangkitan spiritual, kebangsaan, dan pembangunan karakter masyarakat Indonesia.

Pengamat sosial dan penulis Jacob Ereste mengatakan forum diskusi yang berlangsung secara rutin itu kini memasuki tahap baru.

GMRI, kata dia, tengah mematangkan persiapan peluncuran Kitab MA HA IS NA YA yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026 sebagai bagian dari pengembangan gagasan Diplomasi Spiritual Global.

“Selama dua tahun terakhir, forum ini telah melahirkan banyak pemikiran dan gagasan yang kami harapkan dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan moral, etika, dan kesadaran spiritual masyarakat,” ujar Jacob dalam pernyataan tertulisnya di Banten, Rabu (29/7/2026).

Menurut Jacob, GMRI membangun tradisi dialog yang terbuka dengan mengedepankan sikap saling mendengar, menghargai perbedaan pendapat, serta menerima kritik dan masukan secara bijaksana.

Ia menilai budaya dialog menjadi fondasi penting dalam melahirkan gagasan yang bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Ia menjelaskan bahwa setiap program yang dirancang GMRI selalu melalui proses kajian dan diskusi secara berulang agar menghasilkan keputusan yang matang serta memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.

“Proses dialog sama pentingnya dengan hasil yang ingin dicapai. Karena itu, kami mengedepankan musyawarah, etika, dan sikap rendah hati dalam setiap pembahasan,” katanya.

Jacob juga mengungkapkan bahwa forum diskusi tersebut menjadi bagian dari perjalanan lahirnya Kitab MA HA IS NA YA. Sebelumnya, GMRI menggelar pembacaan doa untuk 79 tokoh bangsa selama 20 jam tanpa henti pada 2–3 Agustus 2025 di Auditorium Wisma Antara, Jakarta.

Menurutnya, peluncuran kitab tersebut akan menjadi salah satu agenda penting GMRI dalam memperkenalkan gagasan kebangkitan spiritual kepada masyarakat. Setelah peluncuran, GMRI berencana menyelenggarakan kegiatan serupa di sejumlah daerah, termasuk Yogyakarta.

Selain membahas isu-isu kebangsaan, forum rutin GMRI juga membangun suasana diskusi yang sederhana dan penuh kekeluargaan.

Para peserta berasal dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari akademisi, tokoh agama, purnawirawan TNI dan Polri, budayawan, hingga pegiat sosial.

Jacob menilai keberagaman peserta menjadi kekuatan utama forum tersebut karena mampu memperkaya perspektif dalam setiap pembahasan.

Ia berharap semangat dialog yang telah terbangun selama dua tahun dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Selama penyelenggaraannya, forum diskusi GMRI telah dihadiri sejumlah tokoh dari berbagai kalangan yang ikut menyumbangkan gagasan dan pandangan mengenai kehidupan berbangsa, kebudayaan, serta pembangunan karakter bangsa.

Jacob menegaskan bahwa GMRI akan terus mempertahankan forum diskusi rutin sebagai wadah bertukar pikiran dan memperkuat budaya dialog.

Menurutnya, keterbukaan terhadap berbagai pandangan menjadi modal penting untuk membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan memperkuat nilai-nilai moral serta spiritual di Indonesia.(Kontributor Yacob)

Berita Terkait