Kawanindonesia.web.id – Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Ahmad Syaify, Sp.Perio., Subsp.RPID (K), FISID, meluncurkan buku berjudul Dokter Multitalenta sebagai hadiah istimewa pada hari ulang tahunnya yang ke-65.
Melalui buku tersebut, ia membagikan perjalanan hidup, pengalaman, serta refleksi yang diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk terus mengembangkan potensi diri.
Prof. Ahmad Syaify menulis buku itu bersama Rochmad Widodo dari Penerbit Biografi Indonesia.
Proses penulisan berawal dari gagasan Rochmad yang ingin menghadirkan sebuah karya biografi dengan pendekatan reflektif sehingga tidak hanya mengisahkan perjalanan hidup, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada para pembaca.
“Sejak awal sebenarnya buku ini tidak pernah saya rencanakan. Justru berawal dari pengajuan Mas Rochmad Widodo dari Penerbit Biografi Indonesia,” ujar Prof. Ahmad Syaify.
Ia menjelaskan bahwa konsep buku tersebut langsung menarik perhatiannya karena menghadirkan kisah hidup yang dipadukan dengan pengalaman, pemaknaan, dan pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, Prof. Ahmad Syaify mengaku sempat ragu ketika mengetahui judul buku yang diusulkan adalah Dokter Multitalenta.
Ia khawatir judul tersebut menimbulkan kesan seolah-olah memuji dirinya sendiri.
“Saya sempat ragu dengan judulnya. Ada rasa kurang sreg karena khawatir terkesan terlalu membesarkan atau memuji diri sendiri,” katanya.
Keraguan tersebut akhirnya hilang setelah berdiskusi dengan keluarganya. Putrinya, drg. Irene, putranya, drg. Mirza, dan sang istri, Siti Azizah, meyakinkan bahwa perjalanan hidupnya layak dibagikan karena mampu memberikan inspirasi kepada banyak orang.
Dalam buku Dokter Multitalenta, Prof. Ahmad Syaify mengisahkan perjalanan kariernya yang tidak hanya sebagai dokter gigi dan akademisi, tetapi juga sebagai jurnalis serta seniman lukis.
Ia menunjukkan bahwa seseorang dapat mengembangkan berbagai kemampuan sekaligus tanpa harus terpaku pada satu profesi.
Rochmad Widodo mengatakan, proses penyusunan buku dilakukan melalui serangkaian wawancara mendalam.
Seluruh cerita kemudian disusun menjadi narasi yang utuh dan diperkaya dengan refleksi, tips, serta nilai-nilai kehidupan yang relevan bagi berbagai kalangan.
“Buku ini memang berangkat dari perjalanan hidup Prof. Syaify sebagai pribadi yang mampu mengembangkan banyak talenta sekaligus.
Namun, isinya bukan hanya kisah perjalanan hidup. Di dalamnya juga terdapat refleksi, tips, nilai-nilai kehidupan, dan pelajaran yang sangat relevan bagi siapa pun,” ujar Rochmad.
Ia menambahkan, buku tersebut semakin kaya karena memuat pandangan dari berbagai tokoh yang mengenal Prof. Ahmad Syaify dalam perjalanan hidup dan kariernya.
Mereka memberikan kesaksian mengenai dedikasi, integritas, dan semangat berkarya yang dimiliki Guru Besar UGM tersebut.
Sejumlah tokoh nasional turut memberikan ulasan dalam buku ini, di antaranya Rektor UGM Prof. Ova Emilia, budayawan Butet Kartaredjasa, aktor dan seniman Slamet Rahardjo, kurator seni rupa Kuss Indarto, penyair Nirwan Dewanto,
mantan Ketua Komisi Yudisial Imam Anshori Saleh, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta Prof. Suranto, hingga mantan Ketua KPK Abraham Samad.
Dalam kata pengantarnya, Prof. Ahmad Syaify menegaskan bahwa buku Dokter Multitalenta bukan sekadar autobiografi.
Ia berharap pembaca menjadikan buku tersebut sebagai inspirasi untuk mengenali, mengembangkan, dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.
“Potensi bukan untuk dipamerkan atau dikejar demi pujian, melainkan dikembangkan agar memberi manfaat yang lebih luas,” tulis Prof. Ahmad Syaify.
Rochmad Widodo menilai buku tersebut tidak hanya relevan bagi kalangan dokter maupun tenaga kesehatan.
Menurutnya, siapa pun dapat menemukan inspirasi dari kisah, pengalaman, dan nilai-nilai yang disampaikan di dalamnya.
Semangat itu dipertegas melalui kutipan psikolog Howard Gardner yang menjadi penutup prolog buku,
“Setiap manusia tidak diciptakan untuk satu peran. Kita adalah makhluk dengan ribuan kemungkinan.”
Pesan tersebut menjadi benang merah yang mengajak setiap orang berani mengeksplorasi potensi diri, terus belajar, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.(Kontributor Rochmad )

