Kawanindonesia.web.id — Kesenian Tarsul khas masyarakat Kutai mulai menghadapi tantangan serius di tengah perkembangan zaman.
Minat generasi muda terhadap tradisi syair berbalas tersebut terus menurun, sehingga para pelaku budaya dan pemerintah kini berupaya mencari ruang baru agar Tarsul tetap hidup di era digital.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV Kalimantan Timur dan Utara Titit Lestari mengatakan Tarsul selama ini lebih banyak tampil dalam ruang adat dan kegiatan tradisional masyarakat Kutai.
Kondisi itu membuat kesenian tersebut sulit menjangkau kalangan muda yang akrab dengan media digital dan hiburan modern.
Menurut Titit, pemerintah telah menetapkan Tarsul sebagai Warisan Budaya Tak Benda tahun 2025.
Penetapan itu sekaligus menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.
“Pelestarian Tarsul tidak cukup hanya melalui dokumentasi dan penetapan status.
Tradisi ini juga harus mendapat ruang untuk berkembang agar tetap relevan dengan generasi sekarang,” kata Titit di Samarinda, Minggu (24/5).
Tarsul sendiri merupakan kesenian tradisional berupa syair atau nyanyian berbalas yang biasa hadir dalam acara khatam Al-Qur’an dan perkawinan masyarakat Kutai.
Penyampaiannya dilakukan dengan irama khas yang sarat pesan moral dan nilai budaya.Titit menilai keterbatasan ruang tampil menjadi salah satu penyebab menurunnya minat masyarakat terhadap Tarsul.
Selain itu, belum banyak generasi muda yang mencoba mengembangkan kesenian tersebut dengan pendekatan kreatif sesuai perkembangan zaman.
Karena itu, pihaknya mendorong kolaborasi antara maestro Tarsul dengan anak muda kreatif agar tradisi tersebut dapat tampil dalam format yang lebih modern tanpa kehilangan nilai aslinya.
“Kami ingin ada jembatan komunikasi antara para penjaga pakem Tarsul dan generasi muda yang memiliki ide kreatif di dunia digital,” ujarnya.
Seniman Tarsul, Saipul Anwar, juga mengakui tantangan pelestarian budaya semakin berat di tengah arus modernisasi.
Ia melihat masyarakat kini lebih tertarik pada hiburan digital dibandingkan kesenian tradisional daerah.
Meski demikian, Saipul tetap berkomitmen menjaga tradisi Tarsul di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar.
Ia berharap generasi muda mulai tertarik mempelajari warisan budaya tersebut.
Menurutnya, inovasi tetap bisa dilakukan selama tidak menghilangkan ruh dan nilai utama Tarsul sebagai identitas budaya masyarakat Kutai.
“Kalau generasi muda bisa membawa Tarsul masuk ke media sosial atau platform digital, itu justru bisa menjadi cara baru untuk memperkenalkan budaya Kutai kepada masyarakat luas,” katanya.(Herman)

