Kawanindonesia.web.id // GMRI Dorong Gagasan Diplomasi Spiritual Global, Bahas Figur Pemimpin Spiritual untuk Masa Depan Indonesia
Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) mendorong penguatan gagasan diplomasi spiritual global sebagai bagian dari upaya membangun peran Indonesia di kancah internasional.
GMRI membahas konsep tersebut dalam diskusi rutin yang digelar di Sekretariat GMRI, Jalan Ir. H. Juanda No. 4 A, Jakarta Pusat, Kamis, 7 Mei 2026.
Dalam forum tersebut, GMRI mengangkat pentingnya kehadiran figur pemimpin spiritual yang dinilai mampu menjadi panutan moral sekaligus penuntun arah bangsa di masa depan.
Diskusi berlangsung dengan melibatkan sejumlah tokoh dari berbagai daerah yang aktif memberikan pandangan terkait arah kepemimpinan nasional.
Sejumlah peserta yang hadir antara lain Surya Wijaya dari Yogyakarta, Joyo Yudhantoro dari Komunitas Kalibata, serta Gus Indra, Gus Dibyo, dan Gus Baidowi.
Para peserta mengikuti pemaparan yang disampaikan oleh Sri Eko Sriyanto Galgendu yang menyoroti konsep kepemimpinan berbasis kecerdasan spiritual.
Dalam penyampaiannya, Sri Eko Sriyanto Galgendu menekankan bahwa Indonesia membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya mengandalkan kecerdasan intelektual, tetapi juga kekuatan spiritual dan moralitas yang kuat.
Ia menegaskan bahwa kepemimpinan sejati harus mampu membaca dinamika sosial sejak dini dan meresponsnya dengan kebijakan yang bijaksana.
GMRI juga mengkaji kembali nilai-nilai sejarah dan spiritual Nusantara, termasuk kejayaan sistem pemerintahan pada masa Mataram Islam,
sebagai bahan refleksi dalam membangun konsep kepemimpinan modern.
Forum tersebut menilai bahwa nilai-nilai kearifan lokal dapat menjadi dasar dalam membentuk karakter pemimpin masa depan.
Selain itu, GMRI mengembangkan gagasan diplomasi spiritual global yang dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang berperan aktif dalam menciptakan perdamaian dunia.
Konsep ini mendorong Indonesia untuk tampil sebagai bangsa yang membawa nilai-nilai moral dan spiritual dalam hubungan internasional.
GMRI menegaskan bahwa kepemimpinan masa depan harus mengedepankan integritas, moralitas, dan keikhlasan dalam melayani rakyat.
Organisasi tersebut juga menilai bahwa pemimpin yang memiliki kejernihan hati
“akan mampu menghasilkan kebijakan yang lebih berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.
Di akhir kegiatan, GMRI menggelar doa bersama untuk Surya Wijaya yang akan melaksanakan rangkaian kegiatan spiritual di Yogyakarta bersama para pemangku adat.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari persiapan program muhibbah GMRI yang akan memperluas jaringan diplomasi spiritual ke berbagai negara.
Diskusi berlangsung dalam suasana hangat dan reflektif, sekaligus menegaskan komitmen GMRI
dalam mengembangkan gagasan kebangsaan berbasis nilai spiritual dan moral sebagai arah pembangunan masa depan Indonesia.(Kontributor banten yacob)

