Kawanindonesia.id – Ruang-ruang seni di Balai Pemuda Surabaya kini terasa sempit, bukan karena karya seni melimpah, melainkan akibat kegelisahan seniman yang tak tersalurkan.
Rencana penataan Galeri Merah Putih, Dewan Kesenian Surabaya, dan Bengkel Muda Surabaya memicu reaksi publik.
Bukan sekadar soal ruang fisik, tetapi soal keterlibatan seniman dalam pengambilan keputusan.
Keresahan memuncak setelah publik mengetahui adanya surat pengulangan dari Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar).
Surat pertama luput dari perhatian, sementara surat kedua menimbulkan polemik, menandakan komunikasi tersendat.
Heri “Lento” Prasetyo, Founder Komunitas Surabaya Juang, menilai masalah ini merupakan gejala ekosistem kebudayaan yang belum sehat.
“Idealnya ada siklus: mendengar, mendiagnosis, memfasilitasi, lalu bertumbuh. Tapi hari ini, siklus itu terputus,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).
Ia mengibaratkan seniman sebagai pasien, lembaga kesenian sebagai dokter, dan pemerintah sebagai apotek.
Ketiganya harus saling terhubung, namun saat ini relasi itu timpang. Seniman merasa tak didengar, lembaga kesenian merasa rekomendasinya tak dijalankan, dan pemerintah terjebak logika program serta tekanan administratif.
Lento menekankan akar masalah terletak pada komunikasi yang tidak setara.
Seniman kerap diposisikan sebagai objek, lembaga kesenian hanya simbol formalitas, dan pemerintah lebih fokus pada serapan anggaran daripada makna kebudayaan.
“Komunikasi yang seharusnya menjadi jembatan, justru berubah menjadi sekat,” katanya.
Sebagai solusi, Lento menawarkan konsep “ruang diagnostik bersama”, forum hidup yang mempertemukan seniman, lembaga kesenian, dan pemerintah secara setara.
Forum ini bertujuan saling mendengar, membaca kebutuhan, dan merumuskan arah kebudayaan bersama
Gagasan ini kemudian dirumuskan dalam Forum Triadik Kebudayaan, wadah pertemuan berkala berbasis data dan kebutuhan nyata, yang menghasilkan rekomendasi strategis sekaligus menjadi arsip kebijakan kebudayaan kota.
Di tengah polemik Balai Pemuda, konsep ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan sekadar ruang, tetapi relasi yang perlu disembuhkan.
Kebudayaan tidak tumbuh dari kebijakan semata, melainkan dari keberanian semua pihak untuk saling mendengar(red)

