Buku Islam Ala Prabowo Viral, Kontroversi Kontributor dan Etika Penulisan Dipertanyakan

Kawanindonesia.web.id– Buku Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam kembali menyedot perhatian publik.

Buku yang mengulas nilai-nilai Islam dalam perjalanan hidup dan kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto itu kini menjadi perbincangan setelah sejumlah tokoh yang namanya tercantum dalam buku menyampaikan sanggahan terkait keterlibatan mereka sebagai kontributor.

Sorotan tersebut menjadi bagian dari tulisan opini Jacob Ereste yang mempertanyakan proses penulisan, pencantuman nama, serta etika penerbitan buku tersebut.

Buku Islam Ala Prabowo diluncurkan di Ballroom Hotel Mercure Ancol, Jakarta, pada 26 Agustus 2025.

Buku setebal 348 halaman itu mencantumkan Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas sebagai penulis.

Menurut Jacob Ereste, kontroversi muncul ketika sejumlah nama yang disebut berkontribusi dalam buku justru menyatakan tidak pernah memberikan tulisan sebagaimana yang tercantum.

Sejumlah Tokoh Bantah Terlibat Polemik terutama berkaitan dengan pencantuman nama sejumlah tokoh dalam materi buku.

Dalam tulisannya, Jacob menyebut keluarga KH Muhammad Abdurrahman Al Kautsar dan TGB Muhammad Zainul Majdi termasuk pihak yang disebut mempertanyakan pencantuman nama mereka.

Nama KH M. Said Agil Siradj juga disebut sebagai salah satu kontributor yang mendapat sorotan.

Klaim tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai mekanisme konfirmasi yang digunakan penulis, editor, maupun penerbit sebelum memasukkan pandangan atau nama seseorang ke dalam sebuah karya yang diterbitkan untuk publik.

Jika pihak yang namanya tercantum memang tidak pernah memberikan materi atau persetujuan, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut substansi buku.

Persoalan itu juga dapat menyentuh aspek etika jurnalistik dan kepenulisan, terutama mengenai akurasi atribusi dan hak seseorang atas pernyataan yang dikaitkan kepadanya.

Namun, persoalan tersebut tetap membutuhkan klarifikasi dari penulis, editor, dan penerbit agar publik memperoleh gambaran yang utuh mengenai proses penyusunan buku.

Buku Bahas Nilai Keislaman Prabowo Secara umum, buku Islam Ala Prabowo membahas nilai-nilai Islam, keadilan, perdamaian, serta spiritualitas yang dikaitkan dengan perjalanan hidup dan kepemimpinan Prabowo Subianto.

Buku tersebut juga menghadirkan perspektif sejumlah tokoh agama, akademisi, dan pejabat negara mengenai karakter keumatan serta kepemimpinan Prabowo.

Jacob menilai buku tersebut pada dasarnya dapat dipahami sebagai kumpulan tafsir atau pandangan mengenai bagaimana nilai-nilai keislaman tercermin dalam kehidupan dan kepemimpinan Prabowo.

Namun, polemik mengenai pencantuman nama kontributor membuat perhatian publik bergeser dari substansi buku menuju proses pembuatannya.

Kontroversi Justru Membuat Buku Disorot

Menurut Jacob, buku tersebut tidak langsung menjadi pembicaraan luas ketika diluncurkan pada Agustus 2025.

Perhatian publik baru meningkat setelah muncul berbagai sanggahan mengenai pencantuman nama sejumlah tokoh.

Ia menilai kontroversi tersebut justru membuat buku yang sebelumnya tidak banyak mendapat sorotan kini semakin dikenal dan dicari pembaca.

Dalam perspektif Jacob, kondisi itu menunjukkan bahwa polemik dapat meningkatkan perhatian publik terhadap sebuah karya.

Namun, popularitas yang muncul akibat kontroversi juga membawa konsekuensi terhadap kredibilitas buku dan pihak-pihak yang terlibat dalam penerbitannya.

Karena itu, proses klarifikasi menjadi penting agar publik dapat membedakan antara isi yang benar-benar berasal dari narasumber dengan materi yang ditafsirkan atau disusun oleh penulis.

Etika Penerbitan Jadi Perhatian Jacob menilai persoalan utama dalam kontroversi ini tidak semata-mata terletak pada isi buku.

Ia juga menyoroti pentingnya etika ketika penulis mencantumkan nama tokoh atau mengaitkan pandangan tertentu dengan seseorang.

Dalam karya yang membawa nama tokoh publik, proses konfirmasi menjadi bagian penting untuk menjaga akurasi dan kredibilitas.

Penulis dan penerbit perlu memastikan pihak yang disebut memang mengetahui serta menyetujui penggunaan nama maupun materi yang dikaitkan dengannya.

Di sisi lain, polemik tersebut juga membuka ruang bagi publik untuk menilai kembali batas antara interpretasi penulis dan kesaksian langsung dari tokoh yang dicantumkan.Dengan demikian, kontroversi Islam Ala Prabowo tidak hanya menyangkut sosok Prabowo Subianto, tetapi juga menyentuh persoalan yang lebih luas mengenai etika kepenulisan, atribusi, konfirmasi, dan tanggung jawab penerbit dalam menyampaikan informasi kepada pembaca.Hingga kini, polemik pencantuman nama sejumlah tokoh tersebut masih membutuhkan penjelasan dari pihak penulis dan penerbit.

Klarifikasi dari pihak-pihak terkait akan menjadi penting untuk memastikan duduk perkara serta memberikan informasi yang berimbang kepada publik.(Kontributor Yacob)

Berita Terkait