Wisudawan Al-Azhar Diniyyah Jambi Diminta Siapkan Masa Depan dan Jadi Pembelajar Sepanjang Hayat

Kawanindonesia.web.id— Wisudawan STKIP dan STIT Al-Azhar Diniyyah Jambi diminta segera menyiapkan masa depan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.

Mereka perlu menentukan arah karier, meningkatkan kompetensi, dan terus belajar agar mampu menghadapi perubahan dunia kerja dan perkembangan teknologi.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Dr. Fasli Jalal, Sp.GK., Ph.D.

Dalam orasi ilmiah pada Wisuda STKIP ke-XIV dan STIT ke-X Al-Azhar Diniyyah Jambi, Sabtu (15/8/2026).


Prof. Fasli mengatakan keberhasilan menyelesaikan pendidikan tinggi patut disyukuri. Namun, ia mengingatkan para lulusan agar tidak menganggap wisuda sebagai akhir perjalanan.


“Kita pantas berbahagia, mensyukuri, dan merayakan keberhasilan ini. Namun, segera menyiapkan diri, karena sebetulnya kita tidak berhenti dengan kelulusan ini.

Kita justru baru memasuki fase yang jauh lebih menantang,” kata Prof. Fasli.


Lulusan Perlu Menyiapkan Roadmap Masa Depan
Prof. Fasli mendorong para wisudawan segera menyusun roadmap kehidupan.

Mereka perlu menentukan bidang yang ingin ditekuni, sektor pengabdian, profesi yang akan dikembangkan, maupun kontribusi sosial yang ingin diberikan kepada masyarakat.


Menurutnya, kehidupan setelah kampus menghadirkan tantangan berbeda. Selama kuliah, mahasiswa masih mendapatkan bimbingan dosen, pembimbing akademik, program studi, dan pimpinan perguruan tinggi.


Setelah memasuki dunia nyata, setiap keputusan membawa konsekuensi. Karena itu, lulusan harus membangun kemandirian, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan menyelesaikan persoalan.


“Di kehidupan nyata tidak ada lagi kesempatan untuk mengulang seperti di kampus,” ujarnya.


Ia meminta para lulusan memanfaatkan ilmu yang telah diperoleh sebagai dasar untuk mengembangkan diri.

Pada saat yang sama, mereka harus terbuka terhadap pengetahuan baru.


Era AI Menuntut Lulusan Terus Beradaptasi
Prof. Fasli juga mengingatkan para wisudawan tentang perubahan teknologi yang berlangsung cepat. Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah memengaruhi cara manusia bekerja dan kebutuhan kompetensi di berbagai bidang.


Menurutnya, pengetahuan yang relevan saat ini belum tentu tetap relevan beberapa tahun mendatang.


“Ilmu yang kita miliki hari ini mungkin beberapa tahun ke depan tidak berguna lagi. Ilmu tersebut menjadi obsolete, menjadi tertinggal, menjadi kuno, dan tidak relevan,” katanya.


Karena itu, lulusan perlu membangun kebiasaan belajar sepanjang hayat.

Mereka harus memperbarui pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan memahami perkembangan teknologi yang berkaitan dengan bidang pekerjaan masing-masing.


Kemampuan beradaptasi akan membantu lulusan menghadapi perubahan sekaligus menemukan peluang baru di tengah perkembangan teknologi.


Bonus Demografi Butuh Generasi Berkualitas ,dalam orasinya, Prof. Fasli juga mengingatkan Indonesia memiliki peluang besar melalui bonus demografi hingga 2045.

Penduduk usia produktif dalam jumlah besar dapat menjadi kekuatan pembangunan apabila Indonesia mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia.


Menurutnya, pendidikan harus berjalan bersama kesehatan, etos kerja, iman, takwa, dan akhlak.
“Jangan sampai bonus demografi yang kita miliki sampai tahun 2045 disia-siakan,” tuturnya.


Ia menilai generasi produktif harus memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan zaman sekaligus karakter kuat.

Dengan bekal tersebut, mereka dapat berkontribusi terhadap pembangunan di berbagai bidang.
Pesan Khusus untuk Lulusan PG PAUD, PBI, dan PAI
Prof. Fasli memberikan perhatian khusus kepada lulusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD), Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), dan Pendidikan Agama Islam (PAI).


Kepada lulusan PG PAUD, ia menekankan pentingnya pendidikan anak usia dini sebagai fondasi perkembangan manusia. Ia mendorong lulusan PG PAUD memperluas akses dan meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini.


Sementara kepada lulusan Pendidikan Bahasa Inggris, Prof. Fasli menyebut penguasaan bahasa Inggris sebagai modal penting untuk membuka akses ke dunia global.


“Bahasa Inggris adalah pintu dunia. Kalau kita mampu berbahasa Inggris, ke mana pun dunia selalu terbuka,” ujarnya.


Namun, perkembangan AI membuat sejumlah kemampuan teknis dalam bahasa semakin mudah dilakukan teknologi.

Karena itu, lulusan PBI perlu mengembangkan kemampuan yang sulit digantikan mesin, seperti empati, kepedulian, karakter, komunikasi, dan kemampuan membangun relasi.


“Kemanusiaan tidak pernah tergantikan oleh AI atau mesin,” pesannya.


Adapun kepada lulusan Pendidikan Agama Islam, Prof. Fasli menekankan pentingnya peran pendidikan agama dalam membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berilmu, dan berakhlak mulia.


Jadilah Pembelajar dan Pemimpin Masa Depan
Pada bagian akhir orasinya, Prof. Fasli kembali mengingatkan para wisudawan agar segera menentukan arah setelah meninggalkan kampus.


Lulusan dapat memilih berbagai jalur, mulai dari menjadi profesional, menciptakan lapangan pekerjaan, mengembangkan profesi, hingga terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.


“Para lulusan harus segera merapatkan barisan, menyiapkan roadmap, mau bergerak di sektor mana, apakah menciptakan pekerjaan, mengembangkan profesi, atau melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan,” katanya.


Prof. Fasli berharap lulusan STKIP dan STIT Al-Azhar Diniyyah Jambi tidak hanya bekerja sesuai bidang keilmuannya.

Ia juga mendorong mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat dan pemimpin yang mampu memberikan kontribusi bagi Jambi, Indonesia, dan dunia.


“Hari ini menjadi mahasiswa, sekarang menjadi lulusan. Jadilah pendidik, tetapi juga jadilah pembelajar sepanjang hayat dan menjadi pemimpin masa depan untuk membangun peradaban yang lebih baik,” pungkasnya.


Wisuda STKIP dan STIT Al-Azhar Diniyyah Jambi pun menjadi momentum bagi para lulusan untuk membuka babak baru.

Mereka tidak cukup membawa ijazah, tetapi harus membawa kemauan belajar, kemampuan beradaptasi, kompetensi, dan karakter.


Di tengah perubahan teknologi dan dunia kerja yang semakin dinamis, kemampuan untuk terus belajar akan menjadi modal penting.

Para wisudawan diharapkan mampu menyiapkan masa depan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.(Red)

Berita Terkait