Kawanindonesia.web.id– Mahasiswa KKNT Inovasi IPB kelompok DEMAK KAB04 mendampingi petani Desa Ngaluran, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, menerapkan pengendalian hama dan penyakit tanaman berbasis kondisi iklim.
Tim mahasiswa melaksanakan kegiatan edukasi tersebut di Aula Balai Desa Ngaluran, Jumat (7/8/2026) malam.
Kegiatan ini menyasar gabungan kelompok tani dan perangkat desa sebagai bagian dari upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan pertanian berkelanjutan.
Mahasiswa tidak hanya memberikan pemahaman mengenai pengendalian hama terpadu, tetapi juga mengajarkan cara mengidentifikasi penyakit tanaman serta menentukan langkah penanganan yang sesuai.
Dalam pemaparan materi, mahasiswa menjelaskan pengaruh kondisi iklim terhadap berbagai komoditas pertanian di Desa Ngaluran.
Materi tersebut mencakup tanaman padi, kacang hijau, bawang merah, pisang, dan cabai.
Perubahan kondisi cuaca dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman sekaligus meningkatkan risiko munculnya hama dan penyakit.
Karena itu, mahasiswa mendorong petani memanfaatkan informasi cuaca sebagai salah satu dasar dalam menentukan langkah pengelolaan tanaman.
Petani Dilatih Membaca Data Cuaca
Untuk memperkuat pemahaman petani, mahasiswa KKNT IPB memperkenalkan data cuaca dari Automatic Weather Station (AWS) yang dapat diakses melalui situs Sinau Bumi.
Mahasiswa melatih peserta membaca informasi cuaca sehingga petani dapat mengenali kondisi lingkungan yang berpotensi memicu serangan hama maupun penyakit tanaman.
Pendekatan tersebut memungkinkan petani mengambil langkah pencegahan secara lebih tepat berdasarkan kondisi lapangan dan informasi cuaca, bukan hanya mengandalkan pengalaman atau kebiasaan dalam melakukan pengendalian hama.
Selain membahas iklim, mahasiswa juga menyampaikan hasil konsultasi dengan petani tanaman IPB mengenai persoalan pertanian di Desa Ngaluran.
Pembahasan mencakup kondisi dan permasalahan tanah, standar tanah yang ideal untuk tanaman bawang merah,
upaya memperbaiki kualitas tanah, pengelolaan kebutuhan nutrisi tanaman, serta manajemen hama dan penyakit.
Mahasiswa Kenalkan Pembuatan PGPR
Pendampingan juga mencakup praktik pembuatan Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR) sebagai bagian dari upaya mendorong kemandirian petani dalam menyediakan pupuk hayati.
Mahasiswa memperagakan proses pembuatan PGPR menggunakan bahan-bahan sederhana, antara lain akar bambu, gula merah, terasi, dan dedak.
Peserta mengikuti demonstrasi secara interaktif. Mahasiswa juga membagikan leaflet yang berisi panduan dan resep pembuatan PGPR agar petani dapat mempraktikkannya secara mandiri.
Diskusi berkembang ketika peserta menyampaikan persoalan yang mereka hadapi di lahan.
Salah satunya berkaitan dengan kondisi tanah Desa Ngaluran yang cenderung memiliki pH asam, terlalu gembur, serta mengalami genangan air ketika musim hujan.
Peserta juga mendiskusikan kemungkinan penggunaan bahan alternatif selain akar bambu dalam proses pembuatan PGPR.
Salah satu peserta, Eko Rulisyanto, yang merupakan perangkat Desa Ngaluran, turut memberikan masukan berdasarkan pengalamannya selama bertani.
Eko mengatakan petani perlu memperhatikan keseimbangan nutrisi tanaman dan menghindari penggunaan pupuk secara berlebihan.
“Seperti manusia, jika nutrisi terlalu banyak akan gemuk, dan gemuk itu sarang penyakit,” ujar Eko.
Menurut Eko, kondisi tanah yang asam juga menjadi salah satu tantangan pertanian di wilayah Demak.
Petani perlu melakukan berbagai upaya untuk menjaga pH tanah agar tetap sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Ia juga menyebut varietas MR337 sebagai salah satu varietas yang dapat menjadi pilihan untuk kondisi tanah yang asam.
Namun, varietas tersebut memiliki masa panen sekitar dua minggu lebih lama.
Eko turut menyoroti produktivitas padi di wilayah Demak. Menurutnya, hasil panen yang diperoleh petani masih berada di kisaran 8,6 hingga 8,7 ton per hektare dan belum mencapai 10 ton per hektare.
Ia mengingatkan petani agar tidak menggunakan pupuk urea secara berlebihan serta mempertimbangkan waktu pemupukan sesuai kondisi tanaman dan lahan.
Serahkan Bibit Padi Gogo IPB 9G
Pada penghujung kegiatan, mahasiswa KKNT Inovasi IPB menyerahkan bibit padi gogo IPB 9G kepada perangkat Desa Ngaluran.
Sementara itu, mahasiswa akan mendistribusikan produk hasil fermentasi PGPR kepada kelompok tani pada 12 Agustus 2026 setelah proses fermentasi mencapai kondisi sempurna.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKNT IPB mendorong petani Desa Ngaluran meningkatkan kemampuan dalam mengelola pertanian secara mandiri dan berkelanjutan.
Mahasiswa berharap petani tidak hanya mampu membuat pupuk hayati sendiri, tetapi juga dapat memanfaatkan informasi cuaca untuk menentukan strategi pengendalian hama dan penyakit secara lebih tepat.
Pendekatan berbasis iklim tersebut diharapkan membantu petani Desa Ngaluran menghadapi perubahan kondisi cuaca sekaligus menjaga produktivitas tanaman secara berkelanjutan.(Zam)

