Pemikiran Sri Edi Swasono dalam Asah, Asih, Asuh Soroti Arah Pendidikan Nasional Indonesia

Kawanindonesia.web.id– Pemikiran Prof. Dr. Sri Edi Swasono kembali menjadi perhatian dalam diskursus pendidikan nasional melalui karya bunga rampai berjudul Asah, Asih, Asuh.

Buku tersebut menegaskan pandangan kritis mengenai arah pendidikan Indonesia yang dinilai perlu kembali memperkuat nilai kebangsaan, kemandirian, dan keberpihakan kepada rakyat.


Sri Edi Swasono dalam berbagai tulisannya menyoroti bahwa pendidikan nasional tidak boleh hanya berorientasi pada aspek teknis dan globalisasi semata, tetapi harus tetap berakar pada nilai-nilai budaya bangsa.

Ia menekankan bahwa pendidikan seharusnya membentuk manusia Indonesia yang utuh, bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral dan sosial.


Dalam buku Asah, Asih, Asuh, Sri Edi Swasono menguraikan gagasan yang sejalan dengan filosofi pendidikan Tamansiswa,

yakni mengasah kecerdasan, mengasihi sesama, dan mengasuh generasi penerus bangsa.

Ia mendorong agar sistem pendidikan nasional mampu menjaga keseimbangan antara ilmu pengetahuan, nilai kemanusiaan, dan kepentingan bangsa.


Ia juga mengkritisi kecenderungan pendidikan yang terlalu mengikuti arus global tanpa mempertimbangkan identitas nasional.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat melemahkan karakter kebangsaan apabila tidak disertai dengan fondasi ideologis yang kuat.


Selain itu, Sri Edi Swasono menyoroti hubungan antara pendidikan dan kedaulatan ekonomi bangsa.

Ia menilai bahwa sistem pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang berpihak pada kemandirian ekonomi,

“termasuk dalam sektor pangan, petani, dan pembangunan berbasis rakyat.(20 Mei 2026)


Gagasan-gagasan yang tertuang dalam Asah, Asih, Asuh juga memperlihatkan konsistensi pemikiran Sri Edi Swasono dalam memperjuangkan ekonomi kerakyatan dan keadilan sosial.

Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh terlepas dari realitas sosial masyarakat Indonesia.


Melalui karya tersebut, Sri Edi Swasono kembali menegaskan bahwa arah pendidikan nasional harus tetap berpegang pada nilai-nilai kebangsaan,

kedaulatan, dan kemanusiaan agar tidak kehilangan jati diri di tengah arus perubahan global.


Dengan demikian, Asah, Asih, Asuh tidak hanya menjadi kumpulan gagasan akademik, tetapi juga menjadi refleksi kritis terhadap masa depan pendidikan Indonesia.
(Kontributor Banten jacob)

Berita Terkait