Kawanindonesia.web.id – Komunitas penggemar Gombloh yang tergabung dalam Memories of Gombloh (Mogers) menggelar ajang bertajuk “Gombloh Bukan Hanya di Radio” sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok maestro musik asal Surabaya yang karya-karyanya tetap hidup dan dicintai lintas generasi.
Kegiatan tersebut berlangsung pada 7–9 Juli 2026 di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya.
Panitia menghadirkan beragam agenda, mulai dari pameran foto bertema Sasana Shanti Antropologi, pertunjukan musik, hingga berbagai penampilan seni yang mengangkat perjalanan hidup dan warisan Gombloh.
Ketua panitia, Esthi Susanti Hudiono, mengatakan kegiatan ini menjadi bentuk apresiasi kepada Gombloh yang selama hidupnya konsisten melahirkan karya-karya bermakna.
“Sebagai idola, ia patut untuk terus dikenang. Lagu-lagu Gombloh berada dalam satu garis yang konsisten.
Karyanya tidak hanya berbicara pada tataran individu, tetapi juga menyentuh kehidupan bangsa, lingkungan, sosial, hingga hubungan manusia dengan Tuhan.
Karya-karyanya memiliki energi untuk membangun karakter dan rasa kebangsaan,” ujarnya.
Ketua Mogers, Affandy Willy Yusuf, menjelaskan bahwa tema “Gombloh Bukan Hanya di Radio” dipilih karena Gombloh tidak hanya dikenal melalui lagu Kugadaikan Cintaku (Di Radio), tetapi juga melalui dedikasinya terhadap kemanusiaan dan kecintaannya kepada Indonesia.
Menurutnya, Gombloh tidak sekadar menciptakan lagu, tetapi juga hadir di tengah masyarakat, membaur dengan berbagai kalangan, serta menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan cinta tanah air melalui karya maupun tindakan nyata.
Dalam kegiatan tersebut, panitia juga memamerkan puluhan foto dokumentasi perjalanan hidup Gombloh, mulai dari aktivitas bermusik, kesehariannya bersama sahabat, hingga dokumentasi saat pemakamannya pada 9 Januari 1988.
Pameran itu mengusung tema Sasana Shanti Antropologi.
Penulis buku Gombloh: Revolusi Cinta dari Surabaya, Guruh Dimas Nugraha, menjelaskan bahwa tema tersebut diambil dari salah satu lagu Gombloh yang menggambarkan imajinasi tentang dunia satu juta tahun setelah masa sekarang.
“Lagu itu berkisah tentang sebuah museum yang menyimpan berbagai peninggalan, termasuk fosil manusia.
Melalui pameran ini kami ingin menunjukkan bahwa Gombloh tetap hidup melalui karya-karyanya dan jejak sejarah yang masih dapat dinikmati hingga kini,” katanya.
Pameran tersebut juga menampilkan sisi sederhana, jenaka, dan humanis Gombloh melalui berbagai dokumentasi panggung serta aktivitasnya bersama masyarakat.
Salah satu agenda yang paling dinantikan adalah reuni Lemon Tree’s anno ’69, grup musik yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan bermusik Gombloh.
Setelah vakum selama 38 tahun sejak Gombloh wafat pada 1988, para personelnya kembali tampil membawakan lagu-lagu Gombloh dari masa idealismenya saat masih berada di bawah label Golden Hand Records.
Reuni tersebut menghadirkan Soelih Estopangestie sebagai vokalis, bersama Ratih Sumarsono, Pardi Artin, Totok Afiat, dan Mamat Bahasuan.
“Sudah 38 tahun kami tidak berada dalam satu band. Kini kami kembali tampil bersama. Saat membawakan lagu-lagu Gombloh, kami selalu mengingat beliau sebagai sahabat yang baik,” ujar Soelih.
Selama tiga hari penyelenggaraan, panitia juga menghadirkan berbagai penampil lain, di antaranya Ludruk Luntas, Seketastakula, Sekaring Jagad,
Max Baihaqi, Cep Ocim, Simpang Musim, Yuli Zedeng, Laily & Family, Jumadi Candu Aksara Grobogan, Indrie & Untung, Esthi Susanti Hudiono, Arul Lamandau, dan sejumlah seniman lainnya.
Selain menjadi ruang apresiasi seni, Mogers juga memanfaatkan momentum tersebut untuk mengusulkan kepada Pemerintah Kota Surabaya agar mengganti nama Gedung Balai Budaya di Balai Pemuda menjadi Gedung Lokaseni Gombloh.
Supervisor kepanitiaan, Heri Lentho, menilai usulan itu layak diwujudkan karena Balai Budaya menjadi tempat Gombloh mengembangkan kreativitas ketika bergabung dengan Bengkel Muda Surabaya.
Panitia berharap Pemerintah Kota Surabaya memberikan penghargaan yang layak kepada Gombloh sebagai salah satu ikon seni dan budaya Kota Pahlawan.
Mereka menilai kecintaan Gombloh terhadap Surabaya tidak pernah berubah hingga akhir hayatnya.
Guruh Dimas Nugraha menambahkan bahwa di setiap kesempatan tampil di berbagai daerah,
Gombloh selalu menyapa penonton dengan ucapan, “Selamat malam, Surabaya!” sebagai bentuk kebanggaannya terhadap kota kelahirannya.
Meski telah menjadi musisi ternama, Gombloh juga memilih tetap tinggal di Surabaya dan tidak berpindah ke Jakarta demi mengejar karier yang lebih besar.
Ajang Gombloh Bukan Hanya di Radio turut mendapat dukungan dari berbagai pihak, di antaranya JatiSwara, KPJ Siwalankerto, Galeri Merah Putih, Rumah Balada Indonesia Banten, Harian Disway, Suara Merdeka Surabaya, Kispi, Budi Karya Sejahtera, serta sejumlah komunitas seni dan budaya lainnya.(Geng)

