Kawanindonesia.web.id – Budayawan dan penulis Jacob Ereste menegaskan pentingnya bangsa Indonesia kembali menggali nilai-nilai spiritual warisan leluhur sebagai fondasi membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pandangan itu ia sampaikan dalam diskusi rutin Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) bertajuk Kamis-Senin yang berlangsung di Sekretariat GMRI, Jalan Ir. H. Juanda No. 4A, Jakarta Pusat, Rabu (9/7/2026).
Diskusi tersebut diawali dengan pembahasan berbagai isu aktual yang tengah menjadi perhatian publik, termasuk dinamika penegakan hukum di Indonesia.
Dari pembahasan itu, Jacob melahirkan sebuah tulisan satiris yang mengibaratkan kondisi bangsa seperti rumah yang sudah rapuh dan memerlukan pembenahan secara menyeluruh.
Menurut Jacob, persoalan kemiskinan, kebodohan, dan praktik korupsi masih menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi.
Ia menilai pemerintah dan seluruh elemen bangsa perlu memperkuat komitmen dalam membangun tata kelola yang bersih serta mengedepankan kepentingan rakyat.
Dalam diskusi tersebut, Jacob berdialog bersama Joyo Yudhantoro, Sri Eko Sriyanto Galdendu, Zainul, Sambang Sutjipto, dan Vgh. Tarno Tuna.
Mereka bertukar pandangan mengenai kondisi bangsa, kepemimpinan, serta pentingnya membangun kesadaran spiritual di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks.
Jacob menilai masyarakat modern semakin terjebak pada orientasi material dan gaya hidup konsumtif.
Kondisi itu, menurutnya, membuat nilai-nilai etika, moral, dan akhlak semakin terpinggirkan sehingga memengaruhi kualitas kehidupan bermasyarakat.
Ia menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak hanya membutuhkan kemampuan intelektual dan manajerial, tetapi juga harus memiliki integritas, keberanian, serta landasan spiritual yang kuat.
Dengan bekal tersebut, seorang pemimpin dinilai mampu menghadirkan perubahan yang membawa manfaat bagi masyarakat luas.
Jacob juga membandingkan pendekatan spiritual masyarakat Timur dan Barat.
Menurutnya, tradisi spiritual bangsa-bangsa Timur, termasuk Indonesia, lebih menekankan pencarian makna melalui pendalaman batin.
Sebaliknya, ia menilai pendekatan spiritual Barat cenderung mencari kekuatan dari faktor-faktor di luar diri manusia.
Melalui diskusi rutin GMRI, Jacob berharap kesadaran terhadap nilai-nilai spiritual leluhur dapat terus tumbuh di tengah masyarakat.
Ia meyakini penguatan spiritualitas yang berpadu dengan etika dan moral akan menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban Indonesia yang lebih adil, harmonis, dan bermartabat.
Jika artikel ini akan dimuat sebagai berita, sebaiknya disajikan sebagai pelaporan atas pandangan Jacob Ereste dan peserta diskusi, bukan sebagai fakta yang telah terbukti, terutama pada bagian yang berisi penilaian atau opini.(Kontributor Yacob)

