Kawanindonesia.web.id – Hari Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa untuk pertama kalinya resmi diperingati di Indonesia setelah pemerintah menetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa melalui Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 135 Tahun 2026.
Peringatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat semangat kebhinekaan, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa.Suasana syukuran berlangsung hangat di kediaman cendekiawan Yudi Latif di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, Minggu (19/7/2026).
Kegiatan tersebut mempertemukan tokoh agama, budayawan, akademisi, komunitas penghayat kepercayaan, serta berbagai elemen masyarakat dalam satu ruang dialog yang menekankan pentingnya persatuan di tengah keberagaman.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebelumnya menyampaikan bahwa penetapan Hari Penghayat Kepercayaan merupakan bentuk pengakuan negara terhadap keberagaman keyakinan yang hidup di Indonesia.
Menurutnya, Indonesia dibangun di atas nilai toleransi, saling menghormati, dan penghargaan terhadap martabat setiap warga negara.
Ia menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab untuk memberikan ruang yang setara bagi seluruh warga negara dalam menjalankan keyakinannya sesuai dengan amanat konstitusi.
Penetapan tanggal 13 Juli sebagai Hari Penghayat Kepercayaan mengacu pada nilai sejarah sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tahun 1945.
Dalam sidang tersebut, KRMT Wongsonegoro memperjuangkan agar aspek kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa mendapat tempat dalam konstitusi, yang kemudian tercermin dalam Pasal 29 Ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945.
Rangkaian syukuran diawali dengan pembacaan doa menggunakan Bahasa Bumi yang dipimpin Pemimpin Spiritual Nusantara Sri Eko Sriyanto Galgendu.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur atas penetapan Hari Penghayat Kepercayaan.Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh keakraban.
Para peserta mengikuti dialog lintas agama dan budaya yang membahas pentingnya menjaga toleransi, memperkuat persaudaraan,
serta merawat nilai-nilai spiritual sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia.Acara yang dipandu Ahmad Gaus juga diisi dengan pembacaan puisi, monolog bernuansa spiritual,
serta diskusi terbuka mengenai peran keberagaman dalam memperkokoh persatuan nasional.
Sejumlah tokoh nasional turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Ketua Yayasan Paramadina Omi Nurcholish Madjid,
jurnalis senior Budiman Tanurejo, presenter Helmi Yahya, tokoh Sunda Wiwitan Dewi Kanti, aktivis Nia Syarifudin, tokoh penghayat Engkus Ruswana,
serta perwakilan komunitas keagamaan, kesultanan Nusantara, dan organisasi kemasyarakatan.
Melalui peringatan perdana Hari Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, para tokoh berharap semangat kebhinekaan dan toleransi terus terjaga di tengah masyarakat.
Mereka menilai dialog, saling menghormati, dan penghargaan terhadap perbedaan merupakan modal penting dalam memperkuat persatuan bangsa.
Peringatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keberagaman budaya, agama, dan kepercayaan merupakan kekayaan bangsa yang harus dirawat bersama sebagai bagian dari jati diri Indonesia yang menjunjung tinggi persatuan dalam keberagaman.(Kontributor Yacob)

