Kawanindonesia web.id– Komunitas penggemar musisi legendaris Gombloh yang tergabung dalam Memories of Gombloh (Mogers) mengusulkan kepada Pemerintah Kota Surabaya agar mengabadikan nama Gombloh sebagai nama jalan, gedung,
“serta menetapkan tanggal 12 Juli sebagai Hari Gombloh atau Hari Musik Surabaya.Usulan tersebut disampaikan dalam audiensi bersama Dinas Kebudayaan, Pariwisata,
“Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudporapar) Kota Surabaya yang berlangsung di Ruang Disbudporapar, Kompleks Mal Pelayanan Publik Surabaya, Rabu (15/7/2026).
Audiensi dipimpin Ketua Bidang Kebudayaan Disbudporapar Surabaya, Edo R. Nurchakim, didampingi Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Surabaya Prof. Purnawan Basundoro, Ketua Dewan Kebudayaan Surabaya Heti Palestina Yunani,
“serta perwakilan sejumlah organisasi perangkat daerah. Dari pihak Mogers hadir Esthi Susanti Hudiono, Affandy Willy Yusuf, Guruh Dimas Nugraha, Dewi Indayani, Budi Haryoso, Sugeng Ribowo, dan Untung Sugianto.
Perwakilan Mogers, Esthi Susanti Hudiono, mengatakan pengajuan tersebut merupakan bentuk penghormatan atas kontribusi besar Gombloh dalam dunia musik Indonesia.
Menurutnya, karya-karya Gombloh tidak hanya menghibur masyarakat, tetapi juga menanamkan nilai nasionalisme, kepedulian terhadap lingkungan, dan semangat kebersamaan.
“Lagu-lagu Gombloh telah memberi inspirasi bagi banyak generasi. Kami berharap Pemerintah Kota Surabaya memberikan penghargaan yang layak kepada putra terbaik yang telah mengharumkan nama kota ini,” ujar Esthi.
Affandy Willy Yusuf menambahkan Gombloh telah memperoleh berbagai penghargaan nasional, termasuk Bintang Budaya Parama Dharma yang dianugerahkan Presiden Prabowo Subianto pada 2026.
Ia menilai penghargaan tersebut semakin memperkuat alasan agar Surabaya memberikan penghormatan yang lebih permanen kepada sang musisi.
Mogers mengusulkan penyematan nama Gombloh pada salah satu gedung di kawasan Balai Pemuda Surabaya, pemberian nama pada salah satu ruas jalan di Kota Surabaya, serta penetapan setiap tanggal 12 Juli sebagai Hari Gombloh atau Hari Musik Surabaya.
Menanggapi usulan tersebut, Prof. Purnawan Basundoro menyatakan pihaknya mengapresiasi kontribusi Gombloh terhadap perkembangan musik nasional.
Namun, ia menegaskan penyematan nama pada gedung di kawasan Balai Pemuda harus melalui kajian sejarah yang komprehensif karena kawasan tersebut memiliki nilai historis yang sangat penting bagi Kota Surabaya.
“Balai Pemuda merupakan ruang sejarah yang menyimpan jejak banyak tokoh seni dan perjuangan. Karena itu, setiap usulan harus dikaji secara mendalam agar tetap menghormati nilai sejarah yang ada,” katanya.
Ketua Dewan Kebudayaan Surabaya, Heti Palestina Yunani, juga menyampaikan dukungannya terhadap penghormatan bagi Gombloh.
Meski demikian, ia menilai seluruh proses harus dilakukan secara terbuka dan melibatkan berbagai pihak agar memperoleh legitimasi yang kuat di tengah masyarakat.
Dalam pembahasan mengenai nama jalan, Prof. Purnawan menjelaskan penggantian nama jalan yang sudah ada akan berdampak pada administrasi kependudukan.
Oleh sebab itu, ia mengusulkan agar nama Gombloh disematkan pada ruas jalan yang belum memiliki nama resmi.Salah satu lokasi yang dinilai memiliki keterkaitan historis adalah kawasan sekitar Gedung Siola.
Menurut Affandy, kawasan tersebut dahulu menjadi lokasi Nirwana Record, perusahaan rekaman yang pertama kali memproduksi karya-karya Gombloh.
Selain itu, Disbudporapar Surabaya menyatakan mendukung pelaksanaan peringatan Hari Gombloh setiap 12 Juli dalam lingkup Kota Surabaya.
Sementara usulan penetapan sebagai hari peringatan nasional memerlukan proses lebih lanjut melalui pemerintah pusat.Perwakilan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya,
“Dwi Mustikasari, juga menyampaikan komitmen untuk mengarsipkan berbagai dokumen dan rekam jejak Gombloh dalam program Memori Kolektif Bangsa sebagai bagian dari upaya pelestarian sejarah dan budaya.
Audiensi tersebut menghasilkan empat poin kesepakatan, yakni mengakui Gombloh sebagai tokoh yang layak memperoleh penghargaan resmi,
menindaklanjuti usulan nama gedung dan jalan melalui kajian bersama, menampung aspirasi masyarakat mengenai penghormatan kepada Gombloh, serta mendukung peringatan tanggal 12 Juli sebagai Hari Gombloh di Surabaya.
Ketua Bidang Kebudayaan Disbudporapar Surabaya, Edo R. Nurchakim, berharap kajian yang disusun Mogers dapat menjadi landasan akademis dalam proses pembahasan lebih lanjut.
Mogers sendiri berdiri secara resmi sejak 2019 dan kini memiliki lebih dari 8.000 pengikut di media sosial. Komunitas tersebut secara konsisten menggelar berbagai kegiatan untuk menjaga warisan karya Gombloh, termasuk pameran dan pertunjukan bertajuk “Gombloh Bukan Hanya di Radio” yang digelar di Balai Pemuda Surabaya.(Geng)

