Detoks Digital Jadi Kunci Hadapi Ancaman Kecanduan Media sosial

Kawanindonesia.web.id // Meningkatnya penggunaan media sosial dan berbagai platform digital mendorong munculnya ajakan untuk menerapkan detoks digital sebagai langkah mengurangi ketergantungan terhadap gawai.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kesehatan mental, meningkatkan produktivitas, serta mengembalikan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.


Pemerhati generasi muda, Yulans FY Wenda, S.HI, menilai kecanduan media sosial menjadi tantangan yang semakin nyata di era digital.

Menurutnya, banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam menggulir layar telepon genggam tanpa tujuan yang jelas sehingga mengurangi kesempatan untuk belajar, berkarya, maupun membangun interaksi sosial secara langsung.


Ia menjelaskan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat menurunkan konsentrasi, melemahkan disiplin, serta mengurangi kreativitas.

Kebiasaan terus-menerus memeriksa notifikasi dan menikmati hiburan instan juga berpotensi membuat seseorang kehilangan fokus terhadap tujuan jangka panjang.


“Detoks digital bukan berarti menjauhi teknologi sepenuhnya, tetapi mengendalikan cara kita menggunakannya.

Teknologi harus menjadi alat yang membantu kita belajar, bekerja, dan berkarya, bukan justru menguasai kehidupan kita,” ujar Yulans.


Menurutnya, penggunaan teknologi yang tidak terkendali dapat berdampak pada menurunnya minat membaca, berkurangnya aktivitas fisik, melemahnya komunikasi dalam keluarga, hingga menurunnya produktivitas generasi muda.


Yulans menegaskan bahwa telepon genggam dan internet bukanlah musuh.

Justru keduanya merupakan sarana penting untuk memperoleh informasi, meningkatkan keterampilan, memperluas jaringan, dan membuka peluang usaha apabila dimanfaatkan secara bijaksana.


Karena itu, ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, mulai menerapkan detoks digital dengan membatasi waktu penggunaan media sosial yang tidak produktif.

Ia juga mendorong anak muda memperbanyak membaca buku, mengikuti kegiatan organisasi, berolahraga, berdiskusi, serta mengembangkan keterampilan yang bermanfaat bagi masa depan.


Selain peran individu, Yulans menilai keluarga, sekolah, dan lingkungan memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi mengenai penggunaan teknologi yang sehat.

Pendampingan sejak dini dinilai mampu membantu anak-anak dan remaja membangun kebiasaan digital yang lebih positif.


Ia berharap masyarakat semakin menyadari bahwa keberhasilan di era digital tidak ditentukan oleh lamanya waktu berada di depan layar,

melainkan oleh kemampuan memanfaatkan teknologi secara produktif, kreatif, dan bertanggung jawab.

Dengan demikian, detoks digital dapat menjadi salah satu langkah nyata untuk membangun generasi yang sehat, cerdas, dan siap menghadapi tantangan masa depan.(Wer)

Berita Terkait