Kawanindonesia.web.id – Pengamat sosial dan budaya Jacob Ereste menilai pemahaman masyarakat mengenai ibadah kurban pada Hari Raya Idul Adha perlu diluruskan agar tidak bergeser dari makna dan tujuan yang sebenarnya.
Menurutnya, kurban merupakan bagian dari ibadah yang diperintahkan Allah SWT kepada umat Islam yang mampu, bukan sekadar aktivitas sosial atau bantuan kemanusiaan.
Pernyataan tersebut disampaikan Jacob Ereste di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Jumat (29/5/2026), saat mengulas hakikat kurban yang kerap dipersepsikan berbeda oleh sebagian kalangan.
Jacob menjelaskan bahwa ibadah kurban mengandung nilai keikhlasan, kejujuran, kepatuhan, dan kerendahan hati.
Karena itu, pelaksanaan kurban tidak boleh dimaknai sebagai sarana pencitraan maupun ajang untuk memperoleh pengakuan dari masyarakat.
“Kurban adalah bentuk pengabdian kepada Allah SWT yang dilandasi ketulusan hati.
Nilai utamanya terletak pada kesediaan seseorang untuk berkorban sebagai wujud ketaatan terhadap perintah agama,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa sejarah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi pelajaran penting tentang makna pengorbanan yang sesungguhnya.
Kisah tersebut mengajarkan kepatuhan kepada kehendak Allah SWT serta kesediaan mengutamakan nilai-nilai spiritual di atas kepentingan pribadi.
Menurut Jacob, umat Islam perlu memahami bahwa hewan yang dikurbankan harus berasal dari harta yang dimiliki secara sah dan dilakukan dengan niat ibadah.
Karena itu, pelaksanaan kurban harus dilakukan secara bertanggung jawab tanpa mengabaikan hak orang lain.
Lebih lanjut, Jacob membedakan secara tegas antara kurban dan bantuan sosial.
Ia menjelaskan bahwa bantuan sosial lahir dari kepedulian terhadap sesama manusia dan bersifat sukarela, sedangkan kurban merupakan bagian dari syariat Islam yang memiliki landasan ibadah.
“Memberi bantuan kepada masyarakat adalah tindakan mulia yang didorong oleh rasa kemanusiaan.
Namun, kurban memiliki dimensi spiritual karena merupakan perintah agama yang ditujukan kepada umat Islam yang mampu menjalankannya,” katanya.
Jacob menilai pembagian daging kurban kepada masyarakat sering menimbulkan kesalahpahaman. Banyak orang melihat manfaat sosial dari pembagian tersebut, lalu menyamakan kurban dengan bantuan sosial.
Padahal, menurutnya, manfaat sosial hanyalah salah satu dampak dari pelaksanaan ibadah kurban.
“Kurban memang memberikan manfaat kepada masyarakat, tetapi tujuan utamanya tetap ibadah. Karena itu,
makna kurban tidak boleh direduksi hanya sebagai kegiatan sosial semata,” tegasnya.
Ia berharap umat Islam dapat memaknai Hari Raya Idul Adha sebagai momentum untuk memperkuat keimanan, meningkatkan keikhlasan,
serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama tanpa kehilangan esensi ibadah yang menjadi dasar pelaksanaannya.
Menurut Jacob, pemahaman yang benar tentang kurban akan membantu masyarakat menjaga nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam Hari Raya Idul Adha sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dan solidaritas sosial dalam kehidupan bermasyarakat.(Kontributor Yacob)

