Kawanindonesia.web.id– Jacob Ereste memandang Sudra, Waisya, Kesatria, dan Brahmana bukan sebagai kasta yang melekat sejak manusia lahir, melainkan gambaran kualitas diri yang terbentuk melalui pilihan sikap dan jalan hidup.
Pandangan tersebut ia tuangkan dalam tulisan reflektif berjudul “4 Jurus Pilihan Jalan Hidup: Sudra, Waisya, Kesatria dan Brahma” pada 8 September 2026.
Jacob menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya lahir dalam keadaan suci, bersih, dan mulia.
Karena itu, ia melihat kategorisasi Sudra, Waisya, Kesatria, dan Brahmana sebagai orientasi nilai yang berkembang dari pilihan manusia dalam menjalani kehidupannya.
Menurut Jacob, manusia tidak menerima kualitas tersebut sebagai kasta bawaan. Sikap, perilaku, dan keputusan seseorang justru membentuk kualitas dirinya sekaligus menentukan arah perjalanan hidupnya.
Ia menggambarkan Sudra sebagai pilihan kualitas hidup yang paling rendah.
Dalam pandangannya, karakter Sudra tercermin melalui mental peminta-minta, jongos, penjilat, pengekor, serta sikap yang tidak mampu menentukan pilihan hidup secara mandiri.
Jacob menilai kondisi ekonomi maupun tingkat intelektualitas tidak selalu menentukan kualitas seseorang.
Seseorang dapat memiliki kekayaan dan kecerdasan tinggi, tetapi tetap menunjukkan mentalitas penghamba apabila tidak memiliki kemandirian dan kepribadian yang kuat.
“Sudra sebagai pemilik sifat dan sikap terburuk — peminta-minta, mental jongos dan penghamba, penjilat dan pengekor tiada memiliki pilihan hidup yang mandiri dan bebas,” tulis Jacob.
Sementara itu, Jacob menggambarkan Waisya sebagai orientasi hidup yang lebih banyak mengedepankan kepentingan pribadi.
Seseorang yang memilih jalan ini dapat mencapai keberhasilan secara ekonomi, bahkan memperoleh kekayaan dan kedudukan tinggi.
Namun, menurut dia, keberhasilan materi tidak otomatis menghadirkan kebahagiaan hakiki. Ketika seseorang hanya mengejar kepentingan diri sendiri dan mengabaikan hak serta kepentingan orang lain,
keberhasilan tersebut justru dapat menjauhkan dirinya dari kebersamaan dan makna kehidupan.
Jacob kemudian menempatkan Kesatria sebagai tahapan perjuangan menuju kualitas hidup yang lebih tinggi.
Ia mengibaratkan Kesatria seperti klasemen dalam sebuah pertandingan kehidupan. Seseorang masih harus melewati proses panjang sebelum mencapai tahap yang dianggap paripurna.
Bagi Jacob, kemenangan seorang Kesatria tidak sekadar memperoleh penghargaan atau simbol keberhasilan.
Kemenangan sejati justru muncul ketika seseorang menemukan kebahagiaan yang bersemayam dalam kedalaman hati.
Ia kemudian menggambarkan Brahmana sebagai kualitas kehidupan yang semakin dekat dengan Tuhan.
Pada tahap tersebut, seseorang tidak lagi menjadikan hiruk-pikuk dunia sebagai ukuran utama keberhasilan.
“Begitulah kasta melebur dan senyap di kedalaman hati yang sepi, tak gaduh dari hiruk pikuk dunia sesaat yang tidak abadi,” tulisnya.
Jacob melihat perjalanan dari Sudra menuju Brahmana sebagai proses kesadaran diri.
Manusia memiliki kesempatan untuk menentukan sikap, memperbaiki kualitas dirinya, dan memilih jalan kehidupan yang dianggap lebih bermakna.
Ia juga menggambarkan kehidupan Kesatria dan Brahmana dalam suasana batin yang teduh dan jauh dari kegaduhan dunia.
Meski perjalanan hidup tetap menghadirkan berbagai ujian, manusia dapat menghadapinya dengan keteguhan hati dan kesadaran spiritual.
Menurut Jacob, alam dan kehidupan juga kerap menghadirkan berbagai peristiwa sebagai pengingat bagi manusia agar tidak terjebak dalam kesombongan.
Bumi, dalam refleksinya, seolah mengingatkan manusia untuk kembali menghargai kehidupan dan kasih sayang.
Pada akhirnya, Jacob menyebut empat kategori tersebut sebagai “jurus pilihan jalan hidup”.
Ia menempatkan Kesatria dan Brahma sebagai wilayah pilihan yang dapat membawa manusia pada pengalaman hidup yang lebih menggembirakan dan menenteramkan hati.
Melalui refleksi tersebut, Jacob mengajak pembaca melihat kehidupan bukan sebagai persoalan kasta yang ditentukan sejak lahir, tetapi sebagai perjalanan kesadaran.
Pilihan sikap, sifat, dan orientasi hidup menjadi bagian penting yang menentukan kualitas manusia dalam menjalani kehidupan.(Kontributor Yacob)
