Gebyar Budaya Nusantara di Kudus: Menguatkan Jati Diri Bangsa Lewat Keselarasan Agama, Kebudayaan, dan Spiritualitas

KawanIndonesia.web.id — Dalam upaya melestarikan kekayaan seni tradisi sekaligus memperkokoh pondasi kebangsaan, komunitas Aktivis Kebudayaan menggelar perhelatan Gebyar Budaya Nusantara pada Selasa (11/8/2026) di Majesty Grand Ballroom, Hotel Griptha, Kudus. Forum strategis ini dirancang sebagai wadah mempertemukan nilai-nilai kebudayaan, spiritualitas, dan agama guna membingkai kepemimpinan nasional serta menjaga persatuan suku bangsa Nusantara.

Pengamat dan budayawan Jacob Ereste mencatat bahwa gelaran ini menjadi momentum krusial dalam memperkuat jati diri bangsa di tengah arus modernisasi dan tantangan degradasi moral.

Sinergi Tokoh dan Gagasan Utama

Ketua Panitia Pelaksana, Agus Mujayanto, menyampaikan bahwa acara ini menghadirkan tokoh-tokoh penting sebagai pemantik arah pemikiran kebudayaan nasional:

  • Keynote Speaker: Menteri Kebudayaan RI, Prof. (Hon) Dr. Fadli Zon, M.Sc.
  • Pembicara Utama: Tokoh Spiritual Indonesia, Sri Eko Sriyanto Galgendu.

Penyelenggaraan ini didukung penuh oleh jajaran dewan penasihat dan panitia, antara lain RM. Bambang Soeryadhi Soeryodhiharjo, Purnomo Sakti, Kolonel Inf. Wiwid Jalu Wibowo, serta jajaran pengurus Aktivis Kebudayaan lainnya.

Poin-Poin Strategis dan Refleksi Kebudayaan

Melalui risalah ini, Jacob Ereste menggarisbawahi sejumlah tujuan strategis dari pergerakan Aktivis Kebudayaan:

  • Keselarasan Agama dan Budaya: Mendorong sikap handarbeni (rasa memiliki) dan tepa slira (toleransi) untuk menjaga harmoni antara ajaran agama dan kearifan lokal sesuai spirit Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
  • Spiritualitas Kepemimpinan: Mengambil inspirasi dari nilai kejayaan peradaban sejarah seperti Majapahit, Kadilangu, dan Mataram guna membentengi karakter kepemimpinan di seluruh tingkatan dengan fondasi etika, moral, dan spiritualitas.
  • Benteng Krisis Identitas: Memposisikan kebudayaan sebagai perekat kebangsaan untuk menangkal degradasi moral serta krisis identitas generasi muda di era transformasi digital.
  • Pembangunan Peradaban Global: Menyediakan ruang kolaborasi bagi para pelaku budaya agar mampu berkontribusi aktif dalam membangun tatanan dunia yang lebih manusiawi dan saling menghormati.

Menjaga Pilar Peradaban Nusantara

Jacob Ereste menegaskan bahwa gerakan kebudayaan yang berpusat di Kudus ini merupakan langkah nyata dalam merawat pilar utama peradaban Indonesia.

“Kebudayaan dan spiritualitas adalah akar yang menopang keberlangsungan bangsa. Melalui keselarasan antara ajaran agama, tradisi, dan etika kepemimpinan, suku bangsa Nusantara akan memiliki pijakan yang kokoh untuk kembali berjaya dan memberikan kontribusi positif bagi peradaban dunia,” pungkas Jacob Ereste dari Stasiun Tawang, Semarang. (Ed/Red)

Berita Terkait