Kawanindonesia.web.id – Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur mendorong Aparatur Sipil Negara (ASN) meningkatkan kemampuan digital untuk menghadapi perkembangan teknologi dan mempercepat transformasi birokrasi.
Dorongan tersebut disampaikan dalam Pelatihan Literasi Digital CERDIG (Cerdas Digital) Batch 4 bertema “Transformasi ASN Menuju Birokrasi Digital yang Adaptif” yang berlangsung secara daring pada Kamis (6/8/2026).
Diskominfo Jatim menggelar kegiatan tersebut bersama Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Digital (BPSDM Kemkomdigi RI). Kegiatan menghadirkan Pandu Literasi Digital BPSDM Kemkomdigi RI Suta Pranawijaya dan Christina Margaretha sebagai narasumber.
Kepala Diskominfo Jatim Sherlita Ratna Dewi Agustin mengatakan, peningkatan kompetensi digital ASN menjadi bagian dari prioritas pembangunan nasional dalam RPJMN 2025–2029.
Ia menyebut pemerintah menargetkan 90 persen ASN memiliki kompetensi digital optimal pada 2029.
Saat ini, sebanyak 32,48 persen ASN telah memiliki kompetensi digital optimal, sedangkan 67,52 persen lainnya masih membutuhkan peningkatan kompetensi.
“Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi momentum untuk membangun budaya kerja digital, meningkatkan kolaborasi lintas perangkat daerah, memperkuat keamanan informasi terutama perlindungan data pribadi, serta yang utama bisa meng-update teknologi terbaru seperti Artificial Intelligence secara bijaksana dan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik,” ujar Sherlita.
Menurut Sherlita, ASN tidak cukup hanya memahami penggunaan teknologi.
ASN juga perlu membangun budaya kerja digital yang mampu mendukung pelayanan publik secara efektif dan aman.
Ketua Tim Literasi Digital Segmen Pemerintahan dan Lansia BPSDM Kemkomdigi RI Bambang Tri Santoso menegaskan bahwa transformasi digital membutuhkan kesiapan sumber daya manusia selain pembangunan infrastruktur dan aplikasi.
Ia mengatakan ASN sebagai garda terdepan pelayanan masyarakat harus mampu menggunakan teknologi sekaligus memiliki literasi digital yang kuat.
“ASN sebagai garda terdepan pelayan masyarakat dituntut tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki literasi digital yang kuat,” tegas Bambang.
Sementara itu, Suta Pranawijaya memaparkan empat pilar literasi digital yang menjadi fondasi transformasi digital pemerintahan. Keempat pilar tersebut meliputi budaya digital, etika digital, kecakapan digital, dan keamanan digital.
Suta mendorong ASN menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam ruang digital, menjaga etika ketika menggunakan media sosial, serta melindungi data dan informasi instansi.
ASN juga perlu melakukan verifikasi informasi sebelum membagikannya.
Langkah tersebut penting untuk mencegah penyebaran hoaks dan menciptakan ruang digital yang profesional.
Narasumber lainnya, Christina Margaretha, mengingatkan ASN agar meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai ancaman siber.
Ia menyoroti risiko aplikasi palsu, malware, dan penipuan digital yang dapat mengancam keamanan data.Christina juga memperkenalkan metode STME atau Source, Time, Motive, dan Evidence untuk membantu ASN memeriksa informasi sebelum menyebarluaskannya.Selain kemampuan memverifikasi informasi,
ASN juga perlu meningkatkan kecakapan menggunakan aplikasi perkantoran serta menjaga keamanan akun.
Penggunaan kata sandi yang kuat dan autentikasi dua faktor atau 2FA menjadi bagian penting dalam melindungi akun dan data.
Pelatihan CERDIG Batch 4 tersebut menjadi bagian dari upaya Diskominfo Jatim meningkatkan kesiapan ASN menghadapi transformasi digital.
Penguatan kemampuan tersebut mencakup pemanfaatan teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence, sekaligus peningkatan kesadaran terhadap keamanan informasi.
Melalui penguatan literasi digital, Diskominfo Jatim berharap ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi secara bijak.
Kemampuan tersebut diharapkan dapat mendukung terbentuknya birokrasi digital yang adaptif sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat.(Bagas)

