Aries Paewai: Double Track Bukan Sekadar Angka Transaksi, tapi Bangun Ekosistem Usaha Siswa

Kawanindonesia.web.id – Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur Aries Agung Paewai menegaskan program SMA Double Track tidak boleh berhenti pada capaian angka transaksi.

Program tersebut harus mampu membangun ekosistem usaha siswa yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.


Pernyataan itu disampaikan Aries saat Dindik Jatim bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melakukan monitoring dan evaluasi (monev) program SMA Double Track di Kabupaten Ponorogo, Kamis (3/9/2026).


Dalam monev tersebut, Dindik Jatim mengubah pola evaluasi dengan mengurangi kegiatan seremonial dan memperkuat forum focus group discussion (FGD) bersama sekolah.

Forum itu menjadi ruang bagi sekolah untuk menyampaikan praktik baik, perkembangan program, serta kendala yang mereka hadapi.


Dindik Jatim juga menghadirkan alumni Double Track yang telah bekerja maupun mengembangkan usaha.

Mereka membagikan pengalaman mengenai pemanfaatan keterampilan yang diperoleh selama mengikuti program.


Aries mengatakan monev harus menghasilkan gambaran nyata mengenai perkembangan program sekaligus solusi atas persoalan yang muncul di lapangan.


“Target kita bukan sekadar tentang angka transaksi. Melainkan membangun ekosistem usaha siswa yang sehat dan berkelanjutan,” tegas Aries.


Transaksi Capai Rp161,1 Juta
Program SMA Double Track di Ponorogo saat ini berjalan di 10 sekolah dengan 22 rombongan belajar kelompok pembelajaran.

Program tersebut melibatkan 631 siswa aktif dan 109 Kelompok Usaha Siswa (KUS).


Sepuluh sekolah itu meliputi SMAN 1 Sambit, SMAN 1 Badegan, SMAN 1 Slahung, SMAN 1 Jenangan, SMAN 1 Kauman, SMAN 1 Ngrayun, SMAN 1 Jetis, SMAN 1 Bungkal, SMAN 1 Balong dan SMAN 1 Sampung.


Program tersebut juga memiliki 4.289 alumni. Sebanyak 1.824 alumni atau 42,47 persen tercatat telah bekerja, sedangkan 366 alumni lainnya memilih berwirausaha.


Dari sisi transaksi, program Double Track di Ponorogo telah mencatat Rp161,1 juta dari target Rp214,7 juta. Capaian itu mencapai 75,79 persen.


Meski belum memenuhi target, Aries meminta sekolah tidak menjadikan nilai transaksi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

Ia ingin sekolah membangun kemampuan siswa dari hulu hingga hilir, mulai dari menguasai keterampilan, menghasilkan produk, menemukan konsumen, hingga mengembangkan usaha.
Terapkan Konsep 5P
Aries menjelaskan,

Double Track bertujuan membekali siswa SMA dengan keterampilan praktis dan jiwa kewirausahaan.

Bekal tersebut diharapkan membantu lulusan yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi untuk memasuki dunia kerja atau menciptakan usaha sendiri.


Untuk mencapai tujuan tersebut, Aries mendorong sekolah menerapkan konsep 5P, yaitu pelajari, produksi, pasarkan, pelanggankan, dan perbesar.


Menurut Aries, siswa tidak cukup hanya mampu membuat produk. Mereka harus memahami kebutuhan pasar dan berani menjual hasil karyanya.


“Jangan berhenti ketika murid hanya membuat produk. Dorong untuk menciptakan karya yang bernilai, berani memasarkannya, mampu membuat orang percaya dan membeli, serta terus mengembangkan menjadi peluang nyata,” ujarnya.


Program Double Track mencakup berbagai kompetensi, seperti makanan dan minuman, busana, kecantikan, desain, fotografi, digital hingga berbagai jenis jasa.


Sekolah Harus Punya Produk Unggulan.Aries meminta sekolah yang sudah memiliki potensi usaha untuk memilih dan mengembangkan produk unggulan.

Setiap sekolah dianjurkan memiliki minimal satu dan maksimal tiga produk unggulan.


Sekolah juga perlu membangun sistem repeat order, memperkuat konten digital dan menjalin kemitraan aktif dengan dunia usaha.


Sementara sekolah yang belum memiliki produk yang matang harus menganalisis kembali produk, pasar, harga dan promosi.

Sekolah juga perlu memastikan kompetensi yang diajarkan sesuai dengan minat siswa dan kebutuhan industri.


“Satu sekolah tidak perlu hebat di semua hal. Tetapi setiap sekolah harus punya sesuatu yang benar-benar hidup,” katanya.


Perkuat Pemasaran Digital
Aries juga mendorong sekolah memperluas pasar melalui tiga lapisan.

Sekolah dapat memanfaatkan lingkungan internal sebagai pasar awal untuk menguji produk, harga dan respons konsumen.


Selanjutnya, sekolah harus mengembangkan pasar lokal Ponorogo dengan membangun kerja sama bersama komunitas serta masuk dalam rantai pasok UMKM.


Sekolah juga perlu memanfaatkan pasar digital melalui katalog produk, konten kreatif, layanan pemesanan dan pelayanan konsumen yang cepat.


“Pasar digital harus membuat semua sekolah memiliki etalase yang sama luasnya,” ujar Aries.


Perkuat Peran Sekolah dan DUDI
Aries menilai pengembangan Double Track membutuhkan perubahan peran setiap pihak.

Kepala sekolah harus mampu bertindak sebagai pengarah utama program, menentukan prioritas, membuka jejaring dan memantau perkembangan usaha siswa.


Guru atau trainer berperan sebagai mentor sekaligus penghubung dengan pasar.

Mereka harus mendampingi siswa dalam mengembangkan proyek sekaligus membantu memperkenalkan produk kepada calon konsumen.


Sementara itu, dunia usaha dan dunia industri (DUDI) harus terlibat sebagai mitra aktif.

Kerja sama dapat mencakup penyelarasan kurikulum, guru tamu, tempat magang, fasilitas, bahan praktik, akses pasar hingga peluang kerja bagi lulusan.


“Double Track adalah tanggung jawab bersama. Setiap pihak memiliki peran. Setiap peran menentukan keberhasilan,” tegas Aries.


Enam KPI Jadi Ukuran Program
Untuk mengukur keberhasilan program, Dindik Jatim menetapkan enam indikator kinerja utama atau KPI, yakni kompetensi, unggulan, pasar, transaksi, kemitraan dan alumni.


Indikator tersebut mengukur kemampuan siswa melakukan praktik secara mandiri, keberadaan produk atau jasa unggulan,

kemampuan membaca pelanggan dan kanal penjualan, pencatatan transaksi, kemitraan aktif serta perkembangan alumni setelah lulus.


Aries berharap sekolah segera menindaklanjuti hasil monev dan FGD.

Ia ingin Double Track menghasilkan siswa yang tidak hanya terampil, tetapi juga mampu mengubah keterampilan tersebut menjadi produk dan jasa yang memiliki nilai ekonomi.


“Kami berharap setelah monev ini ada perbaikan nyata. Sekolah harus semakin mampu membaca kebutuhan pasar, memperkuat produk unggulan, membangun kemitraan dan memanfaatkan pemasaran digital,” pungkasnya.


Dengan pendekatan tersebut, Dindik Jatim ingin Double Track berkembang dari sekadar program pelatihan menjadi ekosistem kewirausahaan yang mampu memberikan bekal nyata bagi siswa sekaligus membuka peluang ekonomi setelah mereka menyelesaikan pendidikan di SMA.


Ringkas daftar sepuluh sekolah
Perjelas makna konsep 5P
Kurangi pengulangan gagasan Aries(Bagas)

Berita Terkait