KawanIndonesia.web.id — Dalam rangka memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya hidup rukun dan harmonis di tengah keberagaman, Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) bersama jaringan tokoh spiritual dan akademisi menggelar “Sarasehan Nasional Gema Perdamaian” melalui ruang virtual Zoom Meeting pada Jumat (21/8/2026).
Melalui tulisan tertulisnya dari kawasan Pecenongan, Jakarta, pengamat sosial Jacob Ereste menyampaikan bahwa gerakan Gema Perdamaian merupakan pendorong nurani untuk merespons dinamika peradaban dan tantangan sosial-kebangsaan di Indonesia.
Sarasehan yang disiarkan langsung dari Bali tersebut menghadirkan jajaran narasumber lintas disiplin, di antaranya Direktur LKAB Rudi S. Kamri, Ekonom Senior Viragina B. Oka, Wali Spiritual Nusantara Sri Eko Sriyanto Galgendu, serta Guru Besar Farmakologi Prof. I Ketut Adnyana, dengan panduan moderator Dr. Kiki Nindya Asih dan MC dr. Laksmi Duarsa.
“Keberagaman agama, ras, suku, maupun latar belakang budaya adalah kenyataan hidup yang tak seharusnya dipertentangkan. Gema Perdamaian hadir sebagai pengingat tahunan agar kita senantiasa menjaga keharmonisan, baik antarmanusia maupun dengan alam lingkungan,” ungkap Jacob Ereste.
Tradisi Refleksi dan Upaya Preventif Kebangsaan
Jacob menjelaskan bahwa agenda tahunan ini dirancang sebagai simbol peringatan dan upaya preventif (eling lan waspada) untuk merawat suasana kondusif bangsa dari ancaman konflik sosial. Momentum ini menjadi wadah konsolidasi gagasan bagi masyarakat luas yang merindukan kedamaian serta toleransi yang berkelanjutan.
Melalui forum sarasehan nasional tersebut, Jacob Ereste mengajak seluruh elemen masyarakat, akademisi, dan praktisi sosial untuk terus mengambil bagian aktif dalam merawat tatanan persatuan demi mewujudkan Indonesia yang damai, toleran, dan bermartabat. (Editor/kontribusi Yacob)

