KawanIndonesia.web.id — Penulis dan pengamat sosial Jacob Ereste kembali menyampaikan gagasan kritisnya terkait dinamika kebangsaan pasca-peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Melalui catatan terbarunya tertanggal 18 Agustus 2026 di Banten, Jacob menyoroti potensi pengkhianatan terhadap cita-cita luhur kemerdekaan akibat diabaikannya janji dan sumpah negara.
Jacob menegaskan bahwa mengabaikan janji kemerdekaan—sebagaimana diamanatkan konstitusi untuk memelihara fakir miskin, anak terlantar, serta mencerdaskan kehidupan bangsa—merupakan bentuk pelanggaran moral atas sumpah yang telah diikrarkan. Menurutnya, hakikat kemerdekaan tidak sekadar diukur dari pencapaian material semata, melainkan juga dari kedalaman spiritualitas dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
“Janji dan sumpah adalah komitmen sakral yang wajib ditunaikan. Ketika nilai-nilai spiritualitas dan kejujuran digantikan oleh pragmatisme serta formalitas upacara, maka esensi dari pengabdian kepada bangsa berisiko kehilangan arah,” tegas Jacob.
Menyoroti Ketimpangan Realitas Sosial dan Ekonomi
Dalam pandangannya, Jacob menggambarkan kontrasnya realitas kehidupan masyarakat kelas bawah di tengah gegap gempita perayaan kemerdekaan. Ia mengkritisi fenomena wacana kesejahteraan dan isu ekonomi nasional yang kerap tidak sejalan dengan fakta keseharian yang dihadapi para pekerja maupun buruh di lapangan.
Ia juga menyoroti bahaya pergeseran mentalitas publik ketika hukum dan etika terancam dimanipulasi demi kepentingan praktis. Menurutnya, pembenaran atas ketidakjujuran dan pengingkaran janji dengan dalih konstitusional maupun formalitas seremoni merupakan ancaman serius bagi reputasi dan harga diri bangsa.
Melalui tulisan ini, Jacob Ereste mendorong seluruh elemen bangsa untuk melakukan introspeksi mendalam, mengembalikan keautentikan nilai kemerdekaan, serta memastikan setiap kebijakan berorientasi nyata pada kesejahteraan lahir dan batin masyarakat luas. (Editor/kontribusi Yacob)

