Silaturahmi GMRI di Depok, Bambang Wiwoho Bahas Laku Spiritual dan Kepemimpinan Soeharto

Kawanindonesia.web.id– Sahabat dan kerabat Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) menggelar silaturahmi dengan wartawan senior sekaligus penulis Bambang Wiwoho di kediamannya di Depok, Jawa Barat, Minggu (21/6/2026).

Pertemuan berlangsung hangat sejak siang hingga malam hari.Dalam kegiatan tersebut, Sri Eko Sriyanto Galgendu bersama Wowok Pratowo dan Towap aktif berdialog dengan Bambang Wiwoho.

Mereka membahas berbagai isu kebangsaan, pengalaman jurnalistik, serta refleksi sejarah politik Indonesia, khususnya pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Bambang Wiwoho, yang pernah bertugas sebagai wartawan Istana pada era Orde Baru, memaparkan pengalamannya selama meliput aktivitas kepresidenan.

Ia menjelaskan bahwa kepemimpinan nasional pada masa tersebut tidak terlepas dari nilai budaya Jawa dan pendekatan spiritual yang berkembang dalam lingkungan kekuasaan.

Ia juga menjelaskan isi karyanya yang mengangkat tema laku spiritual dan praktik kejawen dalam kepemimpinan Soeharto.

Bambang menilai bahwa unsur spiritual turut membentuk gaya kepemimpinan yang menekankan stabilitas, keseimbangan, dan harmoni dalam pengambilan keputusan politik.

“Dalam perspektif kepemimpinan Jawa, unsur keseimbangan dan ketenangan batin menjadi bagian penting dalam mengelola negara,” ujar Bambang dalam diskusi tersebut.

Suasana silaturahmi berlangsung akrab dan penuh kehangatan. Para peserta berdiskusi secara aktif mengenai dinamika sejarah, budaya politik, serta pengalaman personal dalam dunia jurnalistik dan kebangsaan.

Pertemuan tersebut juga diwarnai dengan pertukaran buku antara Bambang Wiwoho dan perwakilan GMRI. Sri Eko Sriyanto Galgendu menyerahkan buku “Kitab MA HA IS MA YA” yang berisi doa dari 79 tokoh nasional, sekaligus menerima karya terbaru Bambang Wiwoho.

Selain diskusi, kegiatan juga diisi dengan pembacaan doa dan refleksi spiritual bersama yang menambah kekhidmatan suasana silaturahmi.

GMRI menilai kegiatan tersebut sebagai ruang dialog intelektual dan spiritual yang memperkuat pemahaman sejarah serta nilai-nilai kebangsaan.

Pertemuan ditutup dengan suasana penuh keakraban dan komitmen untuk terus membangun komunikasi kebangsaan yang konstruktif.(Kontributor Yacob)

Berita Terkait