Heru Satriyo Dorong Film sebagai Media Perubahan Sosial, MAKI Jatim Luncurkan “Gadis Rengganis

Oplus_131072

Kawanindonesia web.id– Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Jawa Timur di bawah kepemimpinan Heru Satriyo meluncurkan langkah strategis baru dengan memasuki dunia perfilman melalui karya berjudul “Gadis Rengganis”.

Film ini diproyeksikan sebagai media perubahan sosial dan sarana edukasi budaya untuk memperkuat karakter generasi muda di tengah tantangan krisis moral bangsa.


MAKI Jatim menegaskan peran baru tersebut sebagai bentuk perluasan gerakan sosial yang tidak hanya berfokus pada pengawasan dan pemberantasan korupsi, tetapi juga menyentuh ranah kebudayaan.

Organisasi ini memanfaatkan film sebagai medium komunikasi publik yang lebih kreatif, persuasif, dan mudah diterima masyarakat luas.


Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Jawa Timur resmi menggarap film “Gadis Rengganis” sebagai bagian dari strategi gerakan kultural.

Film ini mengangkat kisah perjuangan seorang perempuan muda yang berusaha mempertahankan nilai-nilai tradisi di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan sosial.


Heru Satriyo menegaskan bahwa film memiliki kekuatan besar dalam membentuk cara berpikir masyarakat, khususnya generasi muda.

Ia menyebutkan bahwa media audio visual mampu menyampaikan pesan moral secara lebih efektif dibandingkan pendekatan formal seperti seminar atau diskusi.


“Film bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana edukasi yang sangat kuat.

Melalui Gadis Rengganis, kami ingin mengajak generasi muda lebih mencintai budaya bangsa, menjaga nilai moral, dan memperkuat karakter di tengah perubahan zaman,” ujar Heru Satriyo.


Film Gadis Rengganis menampilkan konflik antara nilai tradisi dan modernitas yang semakin dominan dalam kehidupan sosial masyarakat.

Alur cerita film ini menggambarkan perjuangan tokoh utama dalam mempertahankan identitas budaya di tengah tekanan gaya hidup modern yang terus berkembang.


MAKI Jatim juga melibatkan berbagai elemen masyarakat dalam proses peluncuran dan pengembangan film tersebut. Unsur pegiat seni, budayawan, akademisi,

hingga komunitas budaya ikut berpartisipasi untuk memperkuat pesan kolaborasi dalam pelestarian nilai-nilai budaya bangsa.


Heru Satriyo mendorong agar film ini tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga menjadi gerakan sosial yang mampu menggerakkan kesadaran publik.

Ia menilai bahwa pelestarian budaya membutuhkan pendekatan yang lebih kreatif dan relevan dengan perkembangan teknologi informasi.


Selain itu, MAKI Jatim menilai industri perfilman memiliki peran penting dalam memperkuat ekonomi kreatif nasional.

Kehadiran Gadis Rengganis diharapkan dapat membuka ruang baru bagi karya-karya lokal yang mengangkat nilai budaya Indonesia agar lebih dikenal luas.


Dengan peluncuran film ini, MAKI Jatim mempertegas langkahnya sebagai organisasi yang tidak hanya bergerak dalam advokasi sosial, tetapi juga membangun perlawanan kultural melalui media seni.

Film ini diharapkan menjadi simbol perubahan sosial yang menempatkan budaya sebagai fondasi utama dalam membentuk karakter bangsa.(Red)

Berita Terkait