Pembinaan Disbudpar Jatim Antarkan Kyai Lodra Juara Festival Nasional Reog Ponorogo

Kawanindonesia.web.id– Upaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur dalam memperkuat pelestarian budaya melalui pembinaan kelompok seni membuahkan hasil membanggakan.

Kelompok kesenian Kyai Lodra berhasil meraih Piala Bergilir Presiden pada Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXX Tahun 2026 setelah menampilkan pertunjukan yang memadukan inovasi dengan tetap berpegang teguh pada pakem Reog.


Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa program pembinaan yang dijalankan Disbudpar Jatim mampu meningkatkan kualitas seni pertunjukan sekaligus mendorong regenerasi seniman Reog di Jawa Timur.


Reog Ponorogo sendiri telah memperoleh pengakuan dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) UNESCO sejak Desember 2024.

Pengakuan itu semakin memperkuat tanggung jawab seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga keberlangsungan kesenian khas Jawa Timur tersebut.

Festival Nasional Reog Ponorogo, yang juga masuk dalam Top 10 Kharisma Event Nusantara Kementerian Pariwisata, menjadi salah satu ajang strategis untuk menunjukkan kualitas dan perkembangan seni Reog.


Pada penyelenggaraan FNRP XXX, Disbudpar Jatim memilih memfasilitasi kelompok Kyai Lodra sebagai peserta.

Pemilihan itu didasarkan pada komitmen kelompok tersebut dalam menjaga nilai-nilai tradisi melalui pendekatan akademis serta membangun regenerasi pelaku seni.


Kyai Lodra diperkuat oleh para akademisi, tenaga pendidik, seniman, dan calon seniman dari berbagai perguruan tinggi maupun sekolah seni.

Mereka dinilai mampu menjaga kesesuaian bentuk pertunjukan dengan pakem budaya sekaligus menghadirkan inovasi yang relevan dengan perkembangan seni pertunjukan masa kini.


Selama kurang lebih tiga bulan, kelompok tersebut menjalani proses pembinaan secara intensif. Mereka melakukan riset, menyusun konsep pertunjukan,

mengembangkan materi artistik, hingga meningkatkan kualitas penampilan agar memenuhi standar pertunjukan yang dapat dipertanggung jawabkan secara akademis tanpa meninggalkan esensi Reog Ponorogo.


Disbudpar Jatim juga memberikan kesempatan kepada para seniman muda yang belum pernah tampil di panggung Festival Nasional Reog Ponorogo.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi regenerasi agar semakin banyak generasi muda memperoleh pengalaman sekaligus berkontribusi dalam pelestarian budaya daerah.


Program pembinaan serupa juga diterapkan terhadap berbagai kesenian tradisional lainnya di Jawa Timur, seperti ludruk, jaranan, campursari, kesenian Tengger, hingga seni tradisi Banyuwangi.

Melalui pola pembinaan tersebut, Disbudpar Jatim terus mendorong peningkatan standar kualitas pertunjukan sekaligus memperluas akses pelaku seni terhadap program pelestarian kebudayaan.


Hasilnya terlihat pada penampilan Kyai Lodra di Festival Nasional Reog Ponorogo XXX. Kelompok tersebut mampu memukau dewan juri melalui sajian yang menghadirkan pembaruan artistik tanpa menghilangkan identitas dan nilai luhur Reog Ponorogo.


Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dengan mempertahankan tradisi, tetapi juga melalui pembinaan yang berkelanjutan, regenerasi seniman, serta inovasi yang tetap menghormati akar budaya.

Keberhasilan Kyai Lodra sekaligus mempertegas komitmen Jawa Timur dalam menjaga Reog Ponorogo sebagai warisan budaya dunia yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.(Red)

Berita Terkait