Spiritualitas dan Keadilan Sosial: Menjawab Kegelisahan Rakyat di Tengah Tantangan Hidup

Kawanindonesia.web.id– Pengamat sosial Jacob Ereste menekankan pentingnya nilai spiritualitas dan keadilan sosial dalam menjawab berbagai kegelisahan masyarakat di tengah tantangan kehidupan modern yang semakin kompleks, termasuk persoalan ekonomi dan ketimpangan sosial.

Jacob Ereste menjelaskan bahwa spiritualitas berperan sebagai fondasi utama dalam membentuk etika, moral, dan akhlak manusia agar tetap berada pada jalur kebenaran.

Ia menilai bahwa tanpa landasan spiritual yang kuat, manusia mudah terjerumus pada perilaku menyimpang seperti kebohongan, penipuan, dan tindakan yang merugikan orang lain.

Menurutnya, etika menjadi pintu awal dalam membangun karakter manusia yang bertanggung jawab.

Dari etika yang kuat, lanjutnya, akan lahir moralitas yang kokoh, yang kemudian diperkuat oleh nilai-nilai agama sebagai pedoman hidup.

“Spiritualitas mengarahkan manusia untuk tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga memahami penderitaan orang lain, termasuk rakyat yang sedang menghadapi kesulitan hidup,” ujar Jacob Ereste, Sabtu (13/06/2026).

Ia menambahkan bahwa moralitas yang dibangun dari fondasi etika dan spiritualitas akan membentuk kepribadian yang tidak mudah terpengaruh oleh pujian maupun cemoohan.

Manusia yang memiliki kesadaran spiritual, kata dia, akan bertindak berdasarkan nilai kebenaran, bukan kepentingan sesaat.

Jacob juga menyoroti pentingnya peran pemimpin dalam menerapkan nilai spiritualitas dan keadilan sosial.

Ia menegaskan bahwa pemimpin tidak cukup hanya memberikan perintah, tetapi juga harus mampu menjadi teladan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat.

Ia mengutip prinsip sami’na wa atha’na sebagai simbol pentingnya kepatuhan yang lahir dari kepercayaan terhadap integritas pemimpin yang adil dan beretika.

“Pemimpin harus hadir sebagai contoh, bukan hanya sekadar berbicara.

Ketika pemimpin kehilangan keteladanan, maka kepercayaan rakyat akan runtuh,” tegasnya.

Jacob juga mengingatkan bahwa dalam tradisi kebijaksanaan lama terdapat pepatah “raja alim disembah, raja zalim disanggah” yang menegaskan pentingnya keadilan dalam kepemimpinan.

Ia menyebut bahwa rakyat memiliki hak moral untuk menolak ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa spiritualitas dan keadilan sosial merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun kehidupan yang harmonis.

Keduanya menjadi dasar untuk mengurangi ketimpangan sosial serta menjawab kegelisahan rakyat yang masih berjuang dengan berbagai keterbatasan hidup.

“Banyak rakyat yang masih tidur dengan kegelisahan dan perut lapar. Di sinilah spiritualitas dan keadilan sosial harus hadir sebagai jawaban nyata,” pungkasnya.(Kontributor Yacob)

Berita Terkait