Kawanindonesia.web.id – Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD GMNI) Sumatera Utara memperkuat dukungan moral kepada aparat kepolisian dalam upaya memberantas tindak kriminalitas dan premanisme yang masih meresahkan masyarakat.
Dukungan tersebut disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Keamanan adalah Hak Rakyat:
Strategi Bersama Memberantas Begal dan Premanisme” yang digelar di Medan, Senin (8/6/2026).
Ketua DPD GMNI Sumut, Michael Situmeang, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap situasi keamanan yang berkembang di tengah masyarakat, khususnya di Kota Medan.
Menurutnya, menciptakan ruang publik yang aman dari aksi begal dan premanisme menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.
“Melalui FGD ini, kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa tidak tinggal diam melihat maraknya tindak kriminalitas.
Kami mendukung penuh aparat kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat,” ujar
Michael didampingi Wakil Ketua Bidang Organisasi Kristianus Dachi, Wakil Ketua Bidang Politik dan Hukum Berry Sitohang, serta kader GMNI Sumut.
Michael menegaskan bahwa GMNI Sumut mendukung langkah tegas dan terukur yang dilakukan aparat penegak hukum terhadap pelaku kriminalitas,
“terutama jika tindakan pelaku membahayakan keselamatan masyarakat.
Ia menilai aparat kepolisian selama ini telah bekerja maksimal dalam menekan angka kejahatan di wilayah Sumatera Utara.
Menurutnya, keselamatan rakyat harus menjadi prioritas utama dalam setiap upaya penegakan hukum.
Karena itu, GMNI Sumut memberikan dukungan moral kepada jajaran kepolisian agar tidak ragu menindak pelaku kejahatan yang mengancam jiwa,
keselamatan, dan harta benda masyarakat.“Kami mendukung aparat kepolisian untuk bertindak tegas terhadap pelaku kriminalitas dan premanisme.
Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi, sehingga masyarakat harus mendapatkan perlindungan yang maksimal,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Politik dan Hukum DPD GMNI Sumut, Berry Sitohang, mengatakan organisasi mahasiswa juga memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi dalam menciptakan keamanan sosial.
Karena itu, GMNI Sumut akan menyusun rekomendasi hasil FGD dalam bentuk policy paper yang akan disampaikan kepada para pemangku kepentingan dan aparat penegak hukum.
Menurut Berry, rekomendasi tersebut akan memuat berbagai faktor yang menjadi penyebab masih terjadinya tindak kriminalitas dan premanisme,
sekaligus menawarkan solusi yang dapat diterapkan secara bersama-sama.
“Kami ingin ikut berkontribusi melalui kajian akademik dan rekomendasi kebijakan.
Mahasiswa, masyarakat, dan aparat penegak hukum memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga keamanan lingkungan,” katanya.
Di sisi lain, Wakil Ketua Bidang Organisasi DPD GMNI Sumut, Kristianus Dachi, menilai faktor ekonomi dan lingkungan sosial sering menjadi pemicu munculnya tindak kriminalitas.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa alasan tersebut tidak dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan tindakan melanggar hukum.
Kristianus mengajak generasi muda untuk mencari jati diri melalui kegiatan yang positif dan produktif.
Ia juga menegaskan pentingnya peran mahasiswa dalam memberikan edukasi serta penyadaran hukum kepada masyarakat.
“Kami akan terus turun ke masyarakat untuk memberikan pemahaman bahwa tindakan kriminal dan premanisme tidak sesuai dengan norma hukum maupun nilai-nilai sosial yang berlaku.
Masih banyak cara positif yang bisa ditempuh untuk membangun masa depan,” ujarnya.
Melalui kegiatan FGD tersebut, GMNI Sumut berharap terbangun sinergi yang lebih kuat antara masyarakat, mahasiswa,
pemerintah, dan aparat penegak hukum dalam menciptakan lingkungan yang aman, tertib, dan bebas dari aksi kriminalitas maupun premanisme.(Rizky)
